Daftar Blog Saya

Selasa, 08 September 2020

Karunia Cinta Nya

"Bu.. Saya beli kangkung nya satu ikat dan tahu nya dua ribu saja"

"Kangkung nya 3 ikat 5ribu neng, gak mau 3 ikat aja? Kalau satu ikat 2ribu" jelas ibu penjual sayur keliling. 

"gak apa apa bu, satu ikat saja" kata ku. 

"ya udah semua jadi 4ribu neng"

"terima kasih banyak bu, yuk ibu ibu saya duluan " sapa ku kepada tukang sayur dan ibu ibu yang lain yang masih memilih belanjaan mereka. 

Aku meninggalkan tukang sayur keliling dan ibu ibu yang memilih belanjaan sembari memandangi ku, entah apa mungkin yang ada di benak mereka tentang ku. Aku memang baru di daerah sini. Aku dan suami baru saja pindah , awalnya kami masih menumpang di rumah orang tua ku sebulan setelah menikah, lalu karena suami ku sudah dapat kerja yang baru akhirnya kami memilih mengontrak rumah kecil di daerah sini. Kami pindah tidak membawa banyak barang hanya dua kali naik becak motor saja barang barang kami bisa diangkut semua. Kami juga tidak punya tempat tidur mewah dan seperangkat kamar mewah lainnya seperti teman temanku yang lain. Aku sengaja tidak ingin meminta lebih pada suami ku, aku ingin kami berjuang bersama sama. Sebenarnya keluarga ku pun tak setuju saat dia datang melamarku hanya dengan uang seadanya, tapi yang membuat ayah ku luluh adalah tentang perjalanan panjang hidupnya hingga ia bisa hadir ditengah tengah kehidupan ku. Walaupun tak mengenalnya lama dan bukan dari proses ta'aruf, aku sudah cukup tau bagaimana tentangnya tanpa aku harus berpacaran karena dia teman ku juga walau kami memang tidak akrab. Komitmen itu hadir saat salah satu teman kami menyampaikan niat baik suamiku ini untuk melamarku, aku yg banyak tau tentang nya dan kehidupan nya memutuskan untuk istikharah dan meyakinkan diri untuk menerimanya.
Dan sampailah kami kepada pernikahan yang apa adanya, sederhana tanpa kemewahan dan hidup dengan sederhana. Namun aku merasa bahagia. Awalnya aku seperti menerima tantangan hidup, yaaa aku memang suka tantangan, selama ini aku suka mengerjakan sesuatu yang di luar dari lumrah, misalnya saja aku membuat dua skripsi saat aku menyelesaikan masa kuliah ku. Yah.... Semua ku lakukan karena aku suka tantangan. Bukan berarti aku tak menemukan kesulitan tapi aku yakin setiap apapun yang di mulai dengan keyakinan kepada Allah, dan selalu menyertakan Allah di dalamnya maka Allah akan bantu.
Demikian pula pernikahan ini, aku tak memikirkan bagaimana kehidupan kami kedepannya saat harus menikah dengan lelaki yang biasa yang apa adanya, yang bekerja di sebuah sekolah dengan gaji hanya 800rb perbulan nya, di tambah dengan mengajar les privat dengan penghasilan 250rb. Selain itu dia juga punya keahlian di bidang IT tak jarang teman temannya atau kenalan nya  menggunakan jasanya dan itu tak selalu ada. Kalau diperkirakan rata rata pendapatan nya hanya 1 juta 500rb saja. Aku selalu bersikeras memintanya untuk mengizinkan aku bekerja, banyak sekali tawaran yang masuk pada ku atas rekomendasi beberapa dosen dan teman teman ku. Tapi suami ku ini tak mengizinkannya ia tak mau aku menanggung beban hidup, kalau pun aku bekerja ia tak akan menyentuh penghasilan ku, dan tak akan memakainya, walaupun itu ku anggap sebagai hadiah, namun ia berkata bahwa ia masih sanggup dan akan memperjuangkan kebahagiaan kami.
Ah.... Aku bisa apa.
Selain patuh pada suami ku.
Bukan kah aku sendiri yang memulainya? Menerima tantangan pernikahan ini.
Namun... Tak sepenuhnya aku menganggap ini sebagai tantangan, tapi inilah ketentuanNya yang  memang harus aku jalankan.

Tak terasa aku sampai di rumah ku,
Rumah yang kecil tapi sudah bangunan permanen, hanya ada satu kamar tidur, ruang tamu lalu ada sedikit ruang kecil yang kami jadikan mushola sederhana dan dapur juga satu kamar mandi. Tapi rumah ini terasa indah bagi ku, karena suami ku rajin sekali menanam tanaman di pekarangan. Baru pindah saja, dia sudah bisa mendesain halaman belakang yg seadanya menjadi lebih apik dan cantik, aku sangat suka. Demikian pekarangan depan. Sampai sampai pemilik kontrakan kami saat berkunjung berjanji akan memberikan cat rumah baru sesuai pilihan ku agar kami bisa lebih nyaman karena dia suka dengan apa yg sudah di buat suamiku di pekarangan kontrakan nya ini, jadi lebih rapi dan indah jauh sekali dari sebelumnya katanya. Saat cat nya sudah datang sesuai warna  permintaanku, aku dan suami bekerja sama saat malam dan sehabis subuh, tak butuh waktu lama dalam tiga hari kami selesai mengganti cat rumah ini dari warna putih yang usang menjadi warna biru sendu yang terang dan lebih indah. Aku memang suka biru. Lalu aku mulai mendekor isi rumah kami yang sangat apa adanya. Gorden milik mama yg ku bawa juga warna biru, demikian juga hiasan hiasan dan bunga bunga yg dibelikan mama untuk ku semua warna biru. 
Ah... Maa sha Allah.

"Dik.. Mas pulang agak sorean dikit ya. Ada kerjaan di rumah teman, benerin laptop nya. Adik makan siang nya duluan aja ya. Oh ya, mau di bawakan makanan apa nanti? Mas ada tambahan sedikit rezeki nanti kalau sudah selesai benerin laptop temen mas" 

Aku membuka hp ku dan ternyata ada pesan masuk dari suamiku, ah... Dia sungguh romantis walaupun hanya pesan sederhana saja tapi cukup membuatku lega dan bahagia. 
Di luar sana mungkin banyak suami yg tak pernah mengabari istrinya tentang aktivitas nya di luar, dan pulang jam berapa. Sampai sampai sang istri tak mengenali kebiasaan suaminya. Semoga suami ku akan terus berbuat seperti ini pada ku, yaaa itu doa ku. 
"iya mas, semoga pekerjaan nya lancar dan jangan lupa makan siang ya, pilih makanan yang sehat, jangan sampai gak makan. Nanti adek juga gak mau makan kalau mas gak makan hehe... Gak perlu bawa apa apa mas, mas pulang dengan keadaan sehat walafiat saja itu sudah jadi oleh oleh spesial buat adek😊" 
 Ku tutup pesan ku dengan emoticon senyuman, seolah mewakili perasaan hati ku. 
Hari hari ku, memang lebih banyak sendiri, pagi sampai tengah hari suami ku mengajar, jelang sore sehabis ashar dia berangkat lagi les privat, jelang maghrib baru balik ke rumah.  Tapi itu tak membuatku kesepian, aku masih bisa komunikasi dengan orang tua ku dan saudara saudara ku yang lain juga teman teman ku. Tak jarang mereka datang dan membawakan oleh oleh buat ku. Karena mungkin mereka tau kondisi ku. Selain itu aku juga gencar cari cari tau usaha online apa yang bisa ku kerjakan dari rumah dan tidak terlalu menyita waktu ku. 

Aku pun melanjutkan beberes lalu makan, makanan yang ku masak walaupun sendiri dan menu yang seadanya tapi Alhamdulillah aku mensyukuri, hari ini aku masih bisa makan. Kami harus menghemat karena bulan ini kami mulai mencicil sepeda motor baru suami ku. Karena motor yang lama sudah sangat rentan bahkan tak bisa di perbaiki, untung nya masih ada yg mau beli dengan harga yang pantas dan uangnya bisa untuk dp motor baru dan bisa beli sepeda bekas untuk ku. Karena itu aku harus pandai pandai berhemat.

Jelang sore suamiku pulang...

"assalamu'alaikum..." 

Aku bergegas lari ke luar dan masih pakai mukena karena baru saja menyelesaikan sholat ashar dan bacaan almatsurat ku. 

"wa'alaikumsalam..." 

Ku buka pintu dan ku dapati ia mulai memakirkan sepeda motor nya di teras rumah dan membuka helm nya, wajah nya tampak sendu dan tak bergairah, tapi masih bisa senyum saat memandangku yabg sudah menunggu di depan pintu. 

"masuk yuk..." Katanya
Firasat ku berkata pasti ada sesuatu yang hendak diceritakannya. Sesuatu yang penting. 

"Dik... Maafin mas ya" 
"maaf kenapa sayang? " sambil mengelus pipinya dengan wajahnya yang nampak letih. 
"Mas gak jadi bawakan adik makanan" 
Aku lalu melempar senyum dan tawa kecil ku padanya sambil memijat ringan tangannya. 
 "Adek kan gak minta di bawakan apa apa, kirain Mas minta maaf kenapa" 
Wajahnya berubah sedikit agak tenang.
"Adik sudah makan? Pakai lauk apa?" 
"tadi adek goreng tahu dan tumis sayur kangkung. Enak deh... Mas mau makan?" 
Wajahnya berubah lesu lagi dan tampak matanya berkaca kaca, 
"maafin mas ya sayang,, Adek harus makan tahu lagi hari ini gara gara berhemat untuk cicilan motor kita" 
Dan ku lihat air mata nya mulai mengalir dari sudut matanya. Aku tak berani menyambung kata katanya. 
"Dik... Tadi waktu di rumah teman Mas, Mas lihat teman Mas, begitu ringan memberikan  sejumlah uang pada istrinya, hanya untuk bayar tas yang dibeli istrinya ke tetangganya. Mas rasa uang itu sebanyak gaji mas sebulan,  Mas teringat adik. Jangan kan memberi uang sebanyak itu, membelikan baju baru untuk adek pun mas gak pernah, adek selalu gunakan uang tabungan adek untuk keperluan yang tak terduga sampai tabungan adek habis, dan mas janji itu akan menjadi hutang mas kepada adik. "
" SubhanAllah... Kita tak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain mas, pernikahan kita ini bukan untuk berlomba lomba mencari kesenangan, tapi kita jalankan apa yg sudah menjadi komitmen kita dan tujuan kita satu, sakinah hingga ke Surga Nya. Adik tak pernah berkecil hati atas apapun yang mas beri. Bagi adik, kasih sayang mas ke adik, taqwa nya mas itu adalah kebahagiaan buat adik"
Air matanya kini lebih deras dari sebelumnya dan ia mulai menutup wajahnya dengan telapak tangannya. 
" Mas janji akan bahagiakan adek sampai ke akhirat sana" 
Ia memegang erat tanganku, jujur aku pun ingin menangis tapi aku tak mau ia menganggap ku bersedih karena hal ini. 
" iya sayang... Aamiin. In sya Allah"

"Oya... Teman mas tadi memberikan Tips 50rb.  Padahal di awal janji kami adalah 150rb, tapi karena dia lihat mas cepat membereskan laptop nya dan terlihat mas tak begitu susah, ia hanya menyalamkan 50rb saja pas pulang tadi, Mas hanya bisa tersenyum . Biarlah Allah yang akan mengganti sisanya, Adik gak marah kan? " lanjut nya. 

" jangan sedih ya sayang, ini hanya dunia, teman Mas juga makhluk Allah, kita tak berharap rezeki pada nya, cukup kita pinta ke Allah saja"

Bergetar hati ku, rasa ingin marah pada teman suami ku itu, bukan tak jauh suami ku harus ke rumahnya bahkan sampai rela makan di warung atau mungkin ia tak makan. Tapi temannya harus mengingkari janjinya. Ah Allah..... 


Maghrib pun tiba lalu kami sholat berjama'ah, lagi lagi tangis kami pun pecah berdua saat doa yang ia lantunkan penuh harapan dan begitu syahdu.

"Robbana.... Kami bukan tak mensyukuri apa yang telah kau beri, kami hanya bermuhasabah diri sambil bermunajat pada Mu, jangan Engkau menjauh... "

Selepas maghrib kami pun makan bersama, aku perhatikan ia makan dengan begitu lahap, jangan jangan ia tak makan siang pikir ku. 
"koq masakan adek, enak banget sih?"
" Alhamdulillah sayang, adek bahagia sekali kalau mas suka. Adek akan terus belajar untuk masak yang enak buat Mas"

Kali ini air mata ku yabg tak mampu ku tahan tapi segera ku seka,, aku yakin dia tak makan seharian tadi.

Selesai kami makan, kami pun ngobrol di ruang tamu beralaskan tikar yang apa ada nya..

"Assalamu'alaikum... Bang..."
Terdengar suara orang dari luar memanggil, seperti suara Fatia adik suami ku satu satunya yang tinggal bersama suami dan dua anaknya. Ya... Mereka berdua suamiku dan adiknya adalah  yatim piatu, orang tua suami ku dan adiknya sudah sejak lama meninggal, dan adik nya menempati rumah orang tua nya karena semasa hidup orang tuanya adik nya rela tak bersekolah demi mengurus orang tua mereka yang sakit sakitan. Dan ia menikah dengan lelaki sholih namun pekerjaan nya juga tak tetap. Tapi mereka masih bisa punya penghasilan sampingan dari sawah almarhum mertua ku. Suami ku tak ingin mengusiknya  karena ia merasa berhutang budi pada adik satu satunya itu.
"wa'alaikumsalam..." 
Aku membuka pintu dan mempersilahkan Fatia masuk.

Fatia datang bersama suami nya dan dua anaknya, wajah mereka tampak panik.

" Kak, Bang... Fatia mohon maaf sudah mengganggu kalian, Fatia minta tolong kak, Bang... Tolong kami, Azam demam tinggi dari kemarin kami sudah bolak balik ke klinik dekat rumah tapi Azam tak sembuh juga malah makin parah kak, Bang. Kami di suruh bawa Azam kerumah sakit sekarang, tapi kami tak punya uang sepeserpun lagi. Tolong kami kak bang... Tapi kalau tidak ada, gak apa apa... Kami bawa saja Azam kerumah sakit nanti kami pikirkan lagi bagaimana "
Azam nampak lemah di gendong ayahnya. Sedang kan Sumayya adiknya juga nampak letih di pangkuan ummi nya
 "kalau diizinkan dan tidak mengganggu 
Kami juga mau nitip sumayya kk," lanjutnya. 

"oh iya dek.. tentu,  biar sumayya sama kakak dan abang.,"
Aku menunggu keputusan suami ku.
"dik sebentar ya" katanya memanggilku
Lalu ia mengajak ku ke kamar. 

" kita punya uang simpanan?"
Katanya pelan agar tak terdengar fatia dan suaminya. Kasihan mereka
" ada Mas, 400rb untuk cicilan motor kita bulan ini, dan simpanan adik ada 75rb lagi"
"mas boleh pinjam uang untuk motornya dek? Untuk menolong azam?"
"tentu sayang, pakai aja dulu, in sha Allah, kita bisa usahakan lagi nanti. Kan masih 2 minggu lagi bayar nya"
"alhamdulillah makasi sayang, uang adek jangan di pakai ya. Biar adek simpan aja"
Aku pun menyerahkan uang simpanan kami kepada suami ku dan keluar menemui Fatia.

" Fatia, ini Abang punya uang simpanan untuk bayar cicilan., tapi cuma 400rb dan ini ada uang 50rb tadi Abang baru benerin laptop temen, pakai aja dulu, mudah mudahan membantu,  setidaknya biar Azam bisa dapat perawatan awal."

" Alhamdulillah... Makasih banyak bang, nanti saya ganti ya bang, Setelah dapat gaji dari mandor" kata suami Fatia, yang memang bekerja serabutan ikut borongan bangunan. 

" Mudah mudahan Allah meringankan urusan kita dan Azzam lekas sembuh, biar Sumayya sama abang dan kakak, kalian cepat bawa azzam ke rumah sakit, nanti kabarin kami lagi ya." lanjut suami ku berusaha menenangkan mereka. 
"iya Bang, Kak, terimakasih... Assalamualaikum"

"wa'alaikumsalam.."

Kami mengantarkan mereka ke depan pintu, dan sumayya kami bawa ke kamar karena sudah tidur.

 Suami ku nampak lesu lagi
" sayang..."
Dia pun memandangi ku
"gak apa apa kan?"
" gak sayang.. Yuk kita temani sumayya takutnya dia terbangun"


Malam ini begitu sunyi, biasanya aku dan suamiku senang bercanda atau saling setor hafalan qur'an di kamar, karena sumayya sudah tidur, maka kami pun ikut tidur juga.

Di sepertiga malam aku terbangun, dan aku lihat ternyata suami ku sudah bangun dan sedang sholat, aku tak ingin mengganggu khusyu' nya, aku memilih sholat setelah dia selesai. Agar tak mengganggu nya.. Aku elus elus kepala sumayya, sumayya tampak pulas sekali mungkin ia letih seharian ini bolak balik ke klinik karena azam yang sakit, tadi malam juga aku mendapat pesan dri fatia, Azzam sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit, dan mereka menginap di rumah sakit.
Alhamdulillah


Fajar meyingsing..
Selepas sholat subuh kami tilawah bersama, lalu aku siapkan sarapan dan beberes rumah lalu menyiapkan suami yang hendak bersiap berangkat kerja. 

"dek ini hari apa?" katanya. 
" ini tanggal 5 mas, hari kamis" 
" oh... Hari ini pengumuman cpns kemarin ya dik, mas lulus gak ya?? Hehe... Tapi mas gak pinter kayak adik. Mana mungkin mas lulus ya.." 
"hushhh... Gak boleh bilang gitu mas, masa' kita mendahului ketentuan Allah" 
"eh iya astagfirullah...". 
"Mas sudah lulus tahap 1 saja itu sudah membuktikan mas pinter. 
apapun hasilnya... Itu yang terbaik" lanjut ku... 

Saat suami ku berangkat mengajar, aku kini di temani sumayya, aku isenk buka buka Web pengumuman cpns dan memasukkan nomor id suami ku. 
Aku tak menemukan data apa apa... 
Lalu ku coba sekali lagi.. Kali ini berdasarkan nomor peserta dan qodarulloh.... 
Rasa tak percaya... 
Ya Allah... 
Suami ku lulus di peringkat pertama.. 
Alhamdulillah, Alhamdulillah tak henti aku mengucapkan syukur dan sujud. 
Sumayya sampai heran melihat aku begitu bahagia dan menangis
" tante kenapa?" 
"  gak apa apa sayang, sebentar lagi Om pulang, kita siapin makan siang yuk" 
Ah.. Tak sabar aku memberi kabar ini. Sambil beristighfar ku siapkan makanan. 

Tak lama suami ku pulang, sumayya berlari membukakan pintu, 

"Om.. Tante tadi nangis dan tiba tiba sujud" ku dengar sumayya melapor ke om nya. 
" adek kenapa??" setengah panik dan memelukku.
" sayang... Adek tadi liat pengumuman dan nama mas lulus di peringkat pertama" 
"lulus??" katanya heran
"iya sayang,  lulus pns yang..." sambil aku menunjukkan pengumuman nya dan ia setengah tak percaya. 
" ya Allah..... Alhamdulillah dik... Berkat doa mu dan cintamu... Allah bantu kita" 
"ini juga karena mas sayang..." 
"adek tau gak?" sambil ia menyodorkan amplop coklat pada ku dan menarik ku duduk. 
"adek ingatkan seminggu yang lalu  itu mas pernah bagusin laptop lama  kepala yayasan di sekolah mas? dan ternyata laptop itu milik ayah nya, ayahnya senang sekali karena didalam laptop itu banyak sekali data data penting dan kenangan, karena sangkin senangnya mas tadi di panggil ke rumahnya pas jam sekolah, dan mas di kasi amplop ini sebagai bentuk terimakasih, awalnya mas menolak. Tapi Bapak itu kekeuh memberikannya." jelasnya. 
"Alhamdulillah...adek buka ya" ku hitung uang yang ada di dalam amplop itu, tampak tumpukan lembaran uang merah. 
"maa sha Allah... Lima juta mas" 
"Alhamdulillah ya Allah..." 

" uang ini buat adek saja, beli baju baru ya dek... Atau beli apa saja yang adek mau" 

" jangan sayang, adek masih punya baju banyak, di rumah orang tua adek juga baju adek masih banyak,. Ini buat beli baju mas dan perlengkapan mas nanti. Untuk cicilan... Dan..."
" untuk beli eskrim tante..." kata sumayya yang dari tadi memandangi kami.... 
Kami pun tertawa..." iya sayang... Nanti kita beli eskrim dan liat mas azzam ya... " kata ku.. 
" hore..... "


Maa sha Allah... Tabarakalloh... 
Janji Allah selalu pasti. Alhamdulillah 


Lentera Sakinah bagian 1
Di tulis oleh Umma Nuha
8-9-2020, Aek Nabara. 

Tulisan ini dilarang di copy paste tanpa mencantumkan nama pengarangnya, karena dilindungi oleh hukum. Silahkan share jika bermanfaat dan cantumkan nama pengarang. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar