Daftar Blog Saya

Selasa, 15 September 2020

Ta'aruf Ai

Sepertinya mereka puas mentertawakanku. Astaghfirullah. 
Haruskah aku membenci?

"nak... Sudah ah jangan nangis, lupain aja, anggap aja gak pernah terjadi, anak gadis ibu ini siapa sih yang gak mau? Udah cantik, pinter, sholeha lagi, " Ibu ku mencoba  menenangkan, setelah di group whatsapp teman teman  SMA heboh dengan gosip yg beredar ulah laki laki itu, Andra dan di sambut oleh beberapa teman yg risih dengan ku sejak masa panas politik tahun lalu, beda pilihan membuat mereka anti kepadaku.
"mereka tega bu,... Kalau memang mau jadi kan Ai mainan, gak perlu sejauh ini. Dulu memang Ai pernah menolak Andra karena Ai memang gak mau pacaran. Tapi Ai gak menyangka dia sedendam itu sampai sampai mempermainkan Ai, dengan pura pura meminta Ai jadi istrinya, lewat kak Yuni pula. Dan setelah sejauh itu, sampai proses ta'aruf, bisa bisanya dia menggagalkan dan bilang kalau semua seri, supaya Ai merasakan gimana sakit hatinya dia saat Ai tolak dulu" jelasku kepada Ibu yg dari tadi mencoba menenangkan ku setelah air mataku jatuh saat membaca olokan beberapa teman di group dan aku memutuskan keluar dari group tapi tak sedikit yg bersimpati dan mengutuk sikap Andra dan beberapa teman ku. Mungkin niat mereka bercanda, tapi keterlaluan rasanya. 


"sudah ah... Tadi abang bilang ada temannya yang mau kenalan sama kamu,nanti malam dia datang, kamu siap siap ya"
"temannya yang mana bu?"
"katanya sih.. Teman pengajian nya"
Siapa ya? Teman teman abang, seumur dia kah? Sudah tua donk?

Malam pun tiba, aku di suruh keluar kamar sama ibu, karena ada yg mau berjumpa. Oh.. Mungkin itu dia teman abang. Aku menuju ruang tamu di sana susah ada abang,kakak ipar dan temannya saat ku lihat sepertinya usianya jauh di bawah abang.
"Nah ini Mas Fikri, adik saya Aisyah, sini dek duduk" abang ku menarik tangan ku dan aku duduk di antara kakak ipar dan abang ku sambil menundukkan pandangan.
" oh.. Iya bang" hanya itu ucapannya. 
Dan seketika suasana hening cukup lama sekitar 15 detik.
" wah... Jadi pada canggung nih ya..Ai, mas Fikri ini sedang cari calon istri, dan dia tanya ke abang, punya adek perempuan atau tidak, ya abang suruh saja datang ke rumah, kalau pun gak berjodoh kan bisa menambah teman kan? Mas Fikri ini gak jauh beda usianya dengan kamu sekarang beliau menjabat pimpinan di salah satu Bimbingan Studi yg  sudah cukup besar namanya, dan rencana mau lanjut S2 ke luar negri ya kan mas Fikri? "
" eh.. Iya, bang... Cuma jabatan biasa biasa aja koq" sambung nya. 
"nah ini adek abang namanya Aisyah. Biasa di panggil Ai, dia lulusan s1 jurusan matematika" 
"oh.. Ya.. Wah pinter donk ya" 
Aku cuma senyum tipis, candaan nya garing. Pikirku.
Dan akhirnya kami ngobrol ber empat, ternyata orangnya Asyik juga. Setelah pertemuan itu, beberapa kali  dia tanya kabar, atau tanya hal hal lain seputar aktivitas masing masing yang masih pada batasnya. 

Dan aku masih menganggapnya teman biasa, dia juga beberapa kali ke rumah, dan nampaknya semakin akrab dengan keluarga ku. Sepertinya juga ayah suka dengan sikapnya. 
Sampai saat kami mengobrol bersama dan dia menyampaikan niat baiknya ke Ayah dan Ibu ku untuk melamar. Dan aku segera mengabarkan ke kak Yuni perihal ini. 

Waktu itu pun tiba, dia bersama keluarganya datang melamar ku. Perkenalan keluarga dan penentuan hari baik untuk pernikahan kami. Semua nampak berjalan sempurna tanpa celah. Dan Ayah Ibu tampak bahagia, akhirnya gadis paling kecilnya kini akan menikah dengan orang yg sudah mereka kenal baik. 

3 minggu sebelum pernikahan, malam itu Aku dan keluarga mulai membicarakan persiapan- persiapan, dan desain undangan pun sudah aku buat sendiri tinggal di antar ke percetakan. Ayah dan Ibu berencana akan mengunjungi sanak saudara untuk mengabarkan kabar baik ini.  
Dan malam itu aku memilih tidur lebih awal karena besok harus mengajar full time sampai sore, ada kelas tambahan di salah satu Bimbel tempat ku mengajar part time. Setelah sholat Isya aku bergegas ingin tidur, tiba tiba hape ku berdering, panggilan dari " Mas Fikri" ah... Kenapa dia nelpon jam segini ya. 
"Assalamu'alaikum mas.." 
"Wa'alaikumsalam Ai.." 
"Ada apa mas?" 
"Sudah tidur?" 
"belum, ini baru mau tidur" 
"o.. Maaf mas ganggu, tapi ada yang mau mas bicarakan. Boleh?" 
"ya sudah, ada apa mas?"
" tadi sore mas dapat email, mas di terima di universitas yang mas impikan selama ini, mas akan melanjutkan S2 di sana " 
"Alhamdulillah.. Barakalloh.. Semoga berkah ya mas.. Terus kapan mas mau kesana?" 
"nah.. Kabar kurang baiknya, mas harus segera menyelesaikan beberapa hal dan berangkat ke sana dalam waktu dekat," 
"pernikahan kita gimana mas?" 
"kita tunda dulu ya, mas mau fokus ini dulu, nanti mas telpon Ayah dan Ibu" 
"o gitu.. Ya gak masalah sih, toh juga undangan belum di cetak dan kami juga berencana besok baru berkabar ke keluarga, sampai kapan di tunda mas?" 
"em... Itu mas belum tau, tunggu nanti bagaimana keputusan nya ya. Yang pasti ini impian mas sejak lama dan kesempatan baik, mas mau kejar cita cita mas ini, Ai tau kan? Bagaimana perjuangan mas bisa masuk ke jurusan dan Universitas ini". 
"o.. Ya udah, kalau Ai sih gak masalah. Ya... Semoga mas bisa sukses dan impian mas tercapai."

Setelah pembicaraan itu, kami tak lagi dapat kabar apa apa, Abang juga tak bisa menghubungi keluarga dan Mas Fikri untuk menanyakan kelanjutannya. 
Sebulan,dua bulan dan setelah hampir memasuki waktu 3 bulan. Barulah aku mendapat pesan singkat dari nomor luar negri, ku lihat fhotonya, fhoto mas Fikri, tapi dengan siapa? 
" Assalamu'alaikum Ai, maaf mas baru bisa menghubungi, Mas sibuk dengan urusan mas. Ai, hubungan kita nampaknya gak bisa di lanjutkan. Dan Mas minta maaf karena disini mas sendiri, mas coba cari teman yabg bisa menemani mas, dan mas jumpa dengan anak teman Mama mas. Dan kami menjalin hubungan. Mas minta maaf ya Ai, mas yakin ini semua gak akan berpengaruh ke Ai, karena Ai adalah perempuan kuat, semoga Ai bisa dapatkan yang terbaik lebih dari mas. "

Bak petir menyambar. Ah... Ini kedua kali nya aku gagal menikah dan di kecewakan. Di kecewakan keadaan, syukurnya bukan hati ku. Perasaan ku memang masih biasa biasa saja dengan Mas Fikri. Pun dengan Andra dulu, aku hanya ingin jatuh cinta setelah menikah. Tapi tentu kondisi ini merugikanku dan merugikan orang tua ku. Kiranya dia memberi tahu lebih awal, tentu tidak membuat kami digantung seperti ini. 

Perlahan aku mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan ini semua ke keluarga ku saat kami semua kumpul. 
Ayah, Ibu, Kakak dan Abang sangat kecewa, terlebih Abangku, beliau merasa bersalah karena sudah mengenalkanku dengan laki laki itu. 
Abang berulang minta maaf kepada kami, dan terutama pada ku. 
Ah... Sudahlah.. 
Saat ini aku memutuskan akan fokus pada karir ku dulu dan tak ingin memikirkan pernikahan. 

Saat berada di titik terendah, yaitu... Ketika semua teman teman yang biasa membersamai hari hari ku, satu persatu menikah dan resign dari tempat kerja ku, demikian pula teman teman yang lain, dan teman teman sehalaqoh juga. Tak ada lagi teman jalan, bercerita seperti dulu. Masing - masing sudah sibuk dengan keluarganya. 
Hanya tinggal aku dan Ana, 
Ini membuat ku dan Ana seperti anak kembar, kemana mana sama. Kami merasa senasib, bukan tak bisa kami menikmati masa masa muda dengan pacaran, tapi tentu bukan itu yg membuat hari hari bahagia, melainkan memperbaiki diri dan semakin dekat padaNya. Dan menyibukkan diri dengan hal hal positif. 
Teman teman, pimpinan ku, Tante dan om juga beberapa tetangga beberapa kali menawarkan perjodohan padaku. Tapi aku belum siap rasanya, ada rasa trauma, tak ingin dikecewakan lagi, kasihan keluarga ku, terutama Ayah dan ibu. 
Aku hanya menunggu,, seseorang yg terbaik datang pada ku. Dan menjawab istikharah ku. 
Biarlah aku menunggu yang terbaik, sambil terus memperbaiki diri. Janji Allah kan pasti. 

****
3 bulan sejak kejadian itu... 


"sudah 25 tahun mau kapan lagi berumah tangga?"
Pertanyaan klasik bagi anak gadis yang sudah selesai kuliah dan kerja di usia rawan kata orang. Bukan cuma dari keluarga, dari tetangga rt, rw, lurah, tingkat kabupaten, provinsi sampek nasional. Hahaha..
"nanti kalau sudah ada jodoh nya pasti menikah Bu, sekarang belum ada yang datang melamar" jelasku dengan hati selapangan bola kaki ke Ibu tetangga yang juga ikut rewang (bantu masak di hajatan tetangga) di pernikahan teman ku sekaligus tetangga ku.
"loh... Zaman sekarang gak harus nunggu dilamar, kita yang lamar juga bisa koq," lanjutnya dan aku hanya tersenyum.
"eh, ini... Temen mu ini bisa dapat laki laki ganteng mapan ya karena udah kecelakaan duluan, ya harus gitu...nyodorkan diri dulu, kalo gak ya dapat nya yang biasa biasa aja"
Ucapnya setengah berbisik agar tak terdengar yang lain, aku  kaget mendengar nya, bisa -  bisa nya ibu ini membuka aib orang lain dan membenarkan pula hal yg salah . Astaghfirullah... Menyesal rasanya duduk di sebelah ibu ini, dan aku pun berpura-pura ambil kerjaan yang lain sebelum ceritanya melebar kemana mana.
"eh bu, ini sudah mau selesai, saya lanjut bantu bu Siti dulu ya kupas kentang " alasan ku meninggalkannya. 
"o.. Iya iya..." katanya melanjutkan kupas bawang merah.
Ku dekati bu siti yang tengah asyik bercerita dengan yg lain sambil kupas kentang, lalu aku ikut bergabung, mereka pasti asyik cerita sendiri dan gak akan sadar kehadiranku.
Tapi...
"eh..Ai... Kamu kapan lagi lo? Cantik, mapan, anak kuliahan, baik lagi... Masak gak punya pacar sih? Teman mu ini aja bisa dapat cowok ganteng karena..."
" eh aduh..Aisyah lupa bu tadi di rumah rebus air.. Bentar ya bu.."
Hufhttttt... Tak mungkin aku lanjutkan kondisi begitu, menceritakan orang yang sedang hajatan. Ya.. Aku tau memang apa yg telah di lakukan teman ku adalah dosa, dan salah bahkan sangat salah. Tapi aku tidak punya hak untuk berghibah tentangnya. Dan gak mau makan bangkai saudara sendiri. 

###
Mata ku masih berat untuk terbuka, tapi jam menunjukkan sudah pukul 05.00 pagi dan Azan subuh pun sudah mulai bersahutan. Hajatan kemarin dengan hiburan nya membuatku susah tidur. Suaranya memekik telinga.
Aku bergegas ambil wudhu' dan sholat subuh. Selepas sholat dan tilawah, ku ambil hp dan melihat aplikasi  kalender hijriah  oh sudah memasuki ayyamul bidh ternyata, artinya besok aku akan puasa. Dulu.. Aku ingat sekali pesan abang sepupu ku, tentang bagaimana dia bisa menjaga dirinya dari pacaran yaitu dengan banyak banyak berpuasa. Dan Tips itu aku ikuti, Alhamdulillah aku tak tergoda dengan pacaran walaupun banyak juga teman atau kenalan yang berniat mengajak pacaran. Semakin tau bagaimana pacaran itu aku semakin tak tertarik malah merasa rugi. Kalau teman ku bilang pacaran itu asyik jadi punya kesibukan sendiri dengan pacar, ada yg perhatikan dan kayak simulasi pra nikah. Haha... Ada ada saja pikir ku. Padahal pacaran itu merugikan waktu, fisik bahkan psikis. 

Tak lama pesan whatsapp  masuk dari murobbiah ku. 

"Assalamu'alaikum dik, hari ini kita jumpa di mushola depan kompleks ya jam 10 pagi , bareng Ana juga. Ada yang mau kakak bicarakan"

Duh..apa ya kira kira.. Pikirku. Ini pertama kali kak Yuni seserius itu. Apakah ada tugas mengisi pengajian? Ah.. Biasanya dia cukup meneleponku saja. 

"Wa'alaikumsalam warohmatullah, baik kak. Nanti Ai kesana"

Tepat jam 10 aku sudah tiba di mushola tapi kak Yuni belum tiba, dan seorang akhwat berjilbab hijau pupus dengan gamis senada memakirkan kereta nya. Ana teman sepengajianku. 
"Assalamu'alaikum Ai.." 
"wa'alaikumsalam na.. Kak Yuni belum datang nih, tumben ya biasa nya beliau on time" 
"oh.. Iya ya... Mungkin masih ngurusin Nabil kali Ai, kita tunggu aja. Aku penasaran banget kak Yuni mau bilang apa ya" 
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Ana, kak Yuni pun tiba 
" eh udah kumpul.. Assalamualaikum" 
"wa'alaikumsalam kak.." jawab kami serempak.
"yuk..dimana kita ngobrol yang asyik dan lebih privasi ya?" 
"o.. Gimana kalau di cafe Kartini aja kak, tempatnya bagus dan ada gazebo nya gitu"
"o.. Ya udah yuk.. Kesana". 
Kami melanjutkan perjalanan kami ke cafe dengan pertanyaan di benak kami masing masing, aku dan Ana. Apa gerangan kak Yuni memanggil kami.

Setiba nya di cafe, kami langsung ambil tempat yang agak menyudut dan nyaman. Kak Yuni langsung membuka pembicaraan. 

"Kakak punya dua cv satu buat Ana dan satu buat Aisyah, silahkan kalian liat dan baca" 

Deg.... Kaget dan saling melempar pandangan. Ternyata kak Yuni memberikan cv bakal calon suami kepada kami. Duh... Aku jadi salah tingkah. 

Bismillah.... 
Ku buka amplop coklat berisi data seorang ikhwan yang telah memilihku untuk menjadi bakal calon istrinya dan tengah menunggu keputusanku kini, demikian juga dengan Ana. 
" hah... Mas Alfi, ini kan....." 
Benakku. Aku baca dengan detail data serta kriteria istri yg di cari nya. Oh sungguh aku bukan tipe nya, aku bukan akhwat yang lemah lembut, apalagi feminim. Aku tampil apa adanya dan cuek serta jauh dari kata feminim. Sedang mas Al... Mas Al adalah sosok yang sangat dikagumi dan disegani di kampus ku dulu, jangan kan menyapaku melihatku saja mungkin dia tak pernah, apalah aku dibandingkan akhwat akhwat yg aktif, pinter dan sholeha lainnya. Tapi kenapa aku? Apa kak Yuni salah kasi ya? 

"kakak mulai dari Ai dulu ya.. Gimana Ai? Tanya saja jangan sungkan, dan kakak percaya kalian berdua saling amanah untuk ini" 

In sha Allah kak...jawabku dan Ana berbarengan. 
"jujur Ai kaget kak.. Beliau ini sangat disegani dan dikagumi dulu, tapi kenapa bisa ke Ai, kakak gak salah?" 
Kak Yuni hanya tersenyum kecil 
" tidak Ai.. Beliau langsung yang menunjukmu"
"ha... Yang benar kak, Aisyah? Aisyah Zafira? Bukan Aisyah yg lain kak?"tanya ku meyakinkan. 
"tidak Ai,, dia lengkap menyebutkan nama mu dan jurusan serta kampus. Masak kakak salah?" 
"Oh... "
Tak menyangka rasanya, ah.. Tapi ini bukan prestasi, hanya aku penasaran saja. Koq bisa? 
"Aisyah istikharah dulu kak, lusa Aisyah kasi jawaban"
Sedang Ana langsung mengiyakan karena dia sudah ingin segera meninggalkan rumahnya, sebab ibu dan Ayahnya sudah tiada, dia tinggal bersama kakaknya yang sudah menikah. Tidak lumrah rasanya dia tinggal disitu, walaupun abang ipar nya memang terbilang jarang ada di rumah, karena sibuk kerja. Tapi dia tetap tak enak hati. 

Hari yang sudah ku tentukan untuk memberi jawaban pun tiba. Aku juga sudah membicarakan dengan Ayah dan Bunda ku, serta Abang dan kakak ku. Mereka setuju saja asal aku bersedia, dan  mencari tau tentang Mas Alfi agar tidak terjadi lagi hal hal yg tak di inginkan, tapi entah kenapa aku begitu semangat kali ini. Aku ambil hape ku dan menelepon kak Yuni. 
"Assalamu'alaikum kak, Ai mau kasi jawaban yang kemarin kak," 
"wa'alaikumsalam warohmatullah dik, iya.. Kakak juga sudah menunggu telpon mu, jadi bagaimana?" 
"Bismillah.. Ai terima kak dan siap untuk proses selanjutnya.." 

Hati ku tak karuan rasanya, antara masih yakin dan tidak dengan mas Alfi, pasalnya bagaimana bisa dia mengenalku dan mau menjadikan ku calon istrinya, ya walaupun sebenarnya proses ini belum menentukan untuk kami berdua. Tapi ah... Sudahlah.. Bismillah saja. 

Proses ta'aruf pun tiba, ba'da Ashar aku di temani kak Yuni dan suaminya menanti kedatangan Mas Alfi dengan murobbi nya di rumah kak Yuni. Aku yang sedari tadi di kamar bersama kak Yuni menemani Nabil yang akan tidur, mendengar suara mesin mobil yang berhenti di depan rumah, dan terdengar suara suami Kak Yuni menyambut mereka. 
"mereka sudah datang Ai, kita keluar ya,, ingat... Tundukkan pandangan dan perbanyak dzikir". 
"iya kak, in sha Allah" 

Aku tak berani melihat mereka,pandangan ku tunduk dan jantung ku berdebar tak karuan, ujung ujung jariku terasa dingin bukan main. 

Pembicaraan pun di mulai, dengan pembukaan dan perbincangan umum seputar ta'aruf oleh kak Yuni, suaminya dan murobbi mas Alfi.

"Jadi bagaimana mas Alfi, ada yang mau di tanyakan?" tanya suami kak Yuni kepada nya

"emm... Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh"
"wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh" jawab kami serentak 
"sebelumnya saya minta maaf jika ini mengagetkan ukhti Aisyah, jadi saya memilih ukhti karena ukhti adalah jawaban dari istikharah saya, untuk alasan lain, saya tidak punya alasan apapun selain mencari sosok istri dan ibu yang baik buat saya dan anak anak saya kelak"
Haduh... Sampai sini aku bagai es yang melumer, Jantung ku semakin tak karuan. Ruangan yang ber Ac itu semakin dingin ku rasa, bagai di kutub Utara hahaha...
"saya juga berterimakasih karena ukhti sudah mau melanjutkan proses ini, semoga segala sesuatunya Allah berkahi dan Ridhoi, hanya itu yang ingin saya sampaikan selebihnya saya serahkan kepada ukhti Aisyah" lanjutnya. 

Masa' sih, dia gak nanya aku bisa masak apa gak? Bisa nyuci apa gak? Nerima aku gitu aja, ah.. Yang benar aja, apa ada yg gak beres? atau memang jalannya semudah ini ya. Aku jadi dihantui rasa takut, terbayang bayang gagal menikah dua kali, apakah harus ku alami yg ke tiga kali? 

"bagaimana Ai, ada yang mau disampaikan dan di tanyakan?" tanya kak Yuni padaku. 

"bismillahirrohmanirrohim, Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, emm.. Ya..saya pun demikian pula hal nya, setelah istikharah baru saya berani memutuskan untuk kelanjutan proses ini, Allahu a'lam alasan apa yg membuat saya yakin, semua saya serahkan kepada Allah dan juga sudah meminta Ridho kedua orang tua juga keluarga yg lain. Tapi.. 
Saya tidak seperti yg dituliskan di bagian kriteria istri antum akh, 
Saya ini sedikit cuek, dibilang lemah lembut juga tidak, saya juga tidak begitu pandai mengerjakan pekerjaan rumah dan jauh dari kata sholiha. Apa antum bersedia menerima saya menjadi istri? "
" nah.. Gimana mas Al, ukhti Aisyah nanya tuh" lanjut murobbi mas Al
Aku tak tau ekspresi wajahnya bagaimana setelah mendengar penjelasanku.
"saya.. Tidak cari pembantu ukh, dan saya juga tidak cari yang sempurna, karena saya sadar diri siapa saya, sebenarnya.... saat saya melihat ketulusan anti menjaga ibunda saya saat ibu saya hampir  pingsan di pasar dan anti yang membawa ibu saya ke rumah sakit, dan saat tau ibu saya hanya punya dua anak saya dan kakak saya, dimana kakak saya tinggal di luar kota, dan saya adalah anak yatim sedang saya waktu itu lagi sidang S2,  anti bersedia menemani ibu saya sampai salah satu keluarga datang. Setelah selesai sidang saya menelepon ke hp ibu tapi yang mengangkat adalah bi' Jur, beliau bilang sejak pagi Ibu ke Pasar namun belum juga pulang. Saya langsung menuju ke pasar dan ke tempat pedagang yg biasa ibu datangi ketika saya menemani nya ke pasar, dan syukurnya pedagang menjelaskan apa yg terjadi, saya berinisiatif mencari ke rumah sakit terdekat, dan menanyakan ke resepsionis langsung,Alhamdulilah ibu ada disana dan resepsionis memberi tahu ibu sedang berada di ugd , dan melihat anti begitu tulus menemani ibu saya, bahkan menyuapinya makan. Saya hanya menunggu di depan pintu UGD dan melihat dari balik kaca pintu, sampai salah seorang perawat datang dan saya meminta agar perawat menyuruh anti pulang dan mengatakan perawat itu  yg akan menemani ibu saya,  agar anti bisa beristirahat, setelah anti pulang baru lah saya masuk"
Deg...ah kejadian itu ternyata... Aku saja hampir lupa sekitar 8 bulan yg lalu saat aku juga belanja di pasar dan melihat seorang ibu yang berjalan sempoyongan aku dengan sigap menangkap badannya dan langsung minta tolong agar membawakan kami ke becak dan segera ke rumah sakit terdekat. Ternyata itu ibu mas Al... Ya Allah... Betapa tak terduga skenario Mu.
"Saat saya masuk ke ruangan, saya langsung memeluk ibunda saya dan menanyakan apa yg terjadi, Ibu saya langsung berkata, kalau ada perempuan cantik berjilbab besar yang menolongnya bahkan mau menungguinya, dan saat saya tanya apakah ibu mau saya menikah dengan perempuan yabg bersama nya tadi, ibu saya langsung mengatakan Alhamdulillah, kalau kita berjodoh kelak, dari kejadian itu, saya berdoa agar Allah permudah ubtuk menjadikan ukhti pendamping saya, lama saya menunggu waktu yg tepat serta banyak juga rintangan yg saya hadapi salah satunya saat tau setiap ana bertanya tentang anti, ustadz Idris berkata anti sedang dalam proses, dan itu 3 kali ana tanyakan, sampai akhirnya ustad Idris sendiri yang menghampiri ana dan menanyakan, dan Alhamdulillah sampai lah ke proses ini."

Tak terasa air mataku mengalir, dan segera ku seka. Aku hampir trauma untuk menikah setelah 2 x gagal. 
Gagal 1 kali ta'aruf dan bahkan terakhir sampai proses lamaran. Ternyata sedang ada yang diam diam menanti ku dalam doanya. Tanpa memaksa, tanpa dengan cara yang tidak di perkenankan dalam agama. 

"maa sha Allah.. Kisahnya ya... Ai... Jangan nangis donk" kata kak Yuni menggoda ku

" saya tak menyangka ternyata itu alasannya, saya juga sempat bingung kenapa antum memilih saya, Jazakallah atas doa doa baiknya" kataku. 

"baik karena sekarang sudah tidak ada yang mau di tanyakan lagi. Silahkan mas Alfi lihat calon nya nih, bener gak nih orang nya" 
Aku tunduk sambil berdegup mungkin tingkat kemerahan pipi ku sudah di ambang batas haha... 
"udah  jangan lama lama nanti gak bisa tidur, sekarang gantian Aisyah lihat Mas Alfi," 
Perlahan ku angkat kepalaku. Dan melihat wajahnya yang tertunduk sendu. Astagfirullah, segera ku alihkan pandangan ku. 
"baik... Karena sudah saling mengenal, nanti di lanjutkan ke keluarga masing masing untuk proses ta'aruf keluarga dan lamaran, semoga Allah mudahkan" 

Tak perlu memakan waktu yang lama, sebulan proses yg kami lalui dan kini ada seseorang yg tengah sibuk membuatkan teh hangat untuk ku dan memijat kaki ku. 
"ini baru masuk angin karena cuci piring mas, gimana kalau adek hamil nanti ya? Mas bisa lebih repot lagi" 
" gak apa apa sayang, semakin mas repot, adek semakin cinta ke mas kan?" 
.... 

Tiada yang tau skenario Nya, manusia hanya bisa menduga dan menyusun rencana, Allah jua yang menentukan. 
Tak pernah terfikir oleh ku akan menikah dengan sosok ikhwan yang sungguh membayangkan nya saja aku tak berani karena sosok nya sangat jauh dengan aku yang apa adanya, dan bukan siapa siapa. Namun, mungkin ini cara Allah agar aku semakin dekat denganNya, semakin taat dan istiqomah lewat bimbingan imam ku kini. 
Jodoh.... 
Bukan perkara mudah, bukan perlombaan siapa cepat, bukan sekedar untuk memenuhi ruang dan waktu. Namun untuk teman memperbaiki diri, teman saling mengingatkan, teman membina surga bersama. 
Sakinah hingga ke Surga itulah tujuannya. 
"Jodoh pasti bertemu" 

Tulisan ini ditulis oleh umma Nuha (IntanZhr) 
Di larang mengcopy paste tulisan ini tanpa menyertakan pengarang aslinya. karena di lindungi oleh hukum.  Silahkan share jika bermanfaat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar