Daftar Blog Saya

Minggu, 20 Desember 2020

Kaleidoskop 2020

Bismillah....
2020 penuh cerita.
Banyak moment yang telah ku lalui di sana. Tak mungkin duka semua,tak mungkin suka semua ,sebab Allah Maha Adil tiap tiap kita di beri perjalanan yg diisi dengan suka dan duka. Namun, kita lebih banyak mengingat duka nya daripada suka nya. Padahal Allah berikan suka duka silih berganti. Suka yang kita rasa niqmat mungkin saja ujian buat kita, duka yang kita rasa sakit mungkin saja niqmat. Hidup ini adalah ujian dan niqmat yg kita rasa hanyalah bonus sebab niqmat yg sesungguhnya kelak akan tampak dari amalan mana yg berat di Yaumil midzan nanti. Namun..ada juga yang hidupnya merasa enak saja, tak pernah susah, padahal jangan kan sholat menutup aurat pun tidak, berbuat buruk tetap dilaksanakan, berzina , korupsi dan lain lain tapi hidupnya terasa tenang saja. Hati hati jangan merasa iri dengan orang yg seperti itu bisa jadi itu adalah istidraj. Allah tak lagi menegurnya, Allah telah membiarkannya, Allah tak lagi membukakan pintu hidayah padanya. Coba bayangin... Tak sedikitpun hati kita tersentuh ubtuk mengejar hidayah, untuk taubat, untuk merasa bersalah, ubtuk rindu akan Allah dan rasulNya ,bayangin jika itu semua hilang???? Itu adalah kondisi terburuk selama hidup kita. Maka bersyukurlah Allah uji kita dan kita semakin dekat denganNya lewat ujian itu.
Kembali ke cerita 2020 ,
Di penghujung 2019 dulu pun banyak hal yg ku lalui salah satunya adalah Allah hadirkan ruang di dalam tubuhku lalu ia titipkan segumpal daging yang terus berkembang πŸ₯Ί itu adalah sebuah keajaiban dalam hidupku, di awal tahun 2020 adalah masa masa berat bagi ku. Bahagia sebab Allah hadirkan ia dalam rahimku, namun di sebaliknya Allah uji pula dengan rasa mual, tidur yang tak tenang, hari hari yang gelisah. Jangan kan makan bahkan minum pun tak sanggup sebab semua terasa memualkan. Allah Maha Baik..Allah hadirkan orang orang baik di sekeliling ku, yang tengah banyak membantu ku. Yang ikut bahagia akan apa yg ku rasa. Ada yang mengantar makanan, ada yang mengantar buah buahan, ada yang membantu ini dan itu. Maa sha Allah. Tak sampai disitu di awal tahun 2020 adalah ujian pula bagi kita semua, fenomena wabah virus Corona yang masuk ke Indonesia, dan saat itu Indonesia tengah siaga dan puncaknya di awal Maret ,lockdown dimana mana dan semua dihantui ketakutan, berita berita dikemas begitu menyeramkan. Seakan kematian semakin mendekat. Dan perubahan hidup seakan tengah terjadi begitu cepat. Dan saat itu pula ujian bagi yang tengah hamil dan akan melahirkan. Banyak ibu hamil yang dilanda stress akibat berita ini, bahkan menyebabkan kematian. Saat itu aku dan suami memutuskan lockdown mandiri tak ada siapapun yg boleh bertamu kecuali mematuhi prokes itupun tak boleh berlama. Keluar rumah seperlunya dengan mematuhi prokes. Setiap dari manapun pasti mandi dan baju langsung dicuci. Ya....Allah menyuruh kita berikhtiar bukan apatis. 
Sampai awal Ramadhan bahkan idul Fitri dan hingga kini... Wabah ini belum berakhir. Namun di penghujung tahun sudah banyak yang melupakan virus ini, ,padahal virus ini masih ada , namun karena berita yg ada tak lagi dikemas seseram dulu ,masyarakat menjadi lebih tenang menghadapinya, tentu ini mengurangi tingkat stress bagi masyarakat. 
Saat waktunya hendak melahirkan, saat itu kami bingung akan melahirkan dimana dan setelah istikharah serta banyak sharing dengan seorang dokter yg juga teman. Akhirnya kami memutuskan pulang kampung dengan menyiapkan semua perlengkapan lahiran. Sebulan lebih di kampung halaman menantikan kehadirannya. Tempat yg dipilih untuk proses persalinan serta dokternya semua sudah kami pilih dan mental sudah disiapkan. Sebulan sebelum melahirkan bolak balik konsultasi agar mendapat waktu yg terbaik dan kondis yang baik. Qodarulloh dokter menyarankan induksi agar bisa lahiran normal dan batu tidak terlalu besar, sebab jika ditunggu maka akan diputuskan untuk operasi karena berat badan bayi terus bertambah drastis tiap minggunya. Maa sha Allah nak..umma lucu kala itu, padahal umma udah diet hihi...
Waktu pun tiba , malam itu kami putuskan mengambil kamar untuk istirahat dan besoknya batu mulai proses untuk induksi. Malam itu tak bisa tidur sesekali terpejam dan terbangun, suami yg lelah juga tak selera untuk tidur ,sesekali tidur dan terbangun. Aku mulai atur strategi untuk tetap fit. Banyak minum air putih,susu Milo ,roti gandum ,sari kurma dan minyak kelapa murni. Semua di konsumsi bergantian dengan jeda waktu. Jam 4 setelah sholat tahajud, saat itu menangis sejadi jadinya, "Ya Robb ..mungkin ini adalah sujud terakhirku, maka ampunkan lah dosa ku ,dan jika nanti aku akan menemui mu, jemputlah aku dengan keindahan bukan ketakutan serta izinkan aku tidak merasa kesepian disana sebab aku takut gelap dan sepi. " Itulah yg ada di benakku, karena saat menghadapi persalinan itu sama dengan menghadapi kematian, ya...antara hidup dan mati. Dokter periksa dan kantung rahim masih tebal ,utuh dan jauh. Prediksi beliau siang baru bisa diproses. Setelah nya aku berjalan kesana kemari, main gymball, berdiri jongkok, dan Nuha mulai aktif banget di perut mungkin dia tahu...sudah saat nya berjumpa dengan umma nya. Jam 11, pecah ketuban Alhamdulillah. Itu artinya aku akan melahirkan???? Ya Allah...Aku akan melahirkan ya Allah..terimakasih ya Allah... Bantu aku...aku tak akan mampu tanpa Mu ya Robb.... Aku tak punya kuasa apapun atas kehadiran anakku nanti, hanya Engkau ya Robb... Teriakku dalam hati saat akan melangkah ke ruang persalinan. Kontraksi mulai beraksi..ya Allah...ini kah kontraksi itu? Ya Allah aku merasakannya...aku bisa merasakannya seperti ibu ibu yang lain...Alhamdulillah... Waktu terus berjalan dan aku bagai di dimensi lain, sakit ,teriak , tapi tak ada rasa lemas, aku merasa punya banyak tenaga, bahkan sempat memukul keras tempat tidur 🀣 sempat menyerah namun dokter dan para suster menguatkan ku... Alhamdulillah pukul 04 sore bukaan sudah 8, dan pukul 5 sudah lengkap ,proses persalinan di mulai, saat itu tenaga ku masih banyak, bahkan untuk memukul dua orang pun aku bisa hahahah.... Tapi Nuha ternyata usil , dia ingin ummanya berusaha lebih keras lagi, dan Allah lah yg membantu ku, saat itu ,, rasanya tak mungkin lagi karena 45menit waktu sudah berlalu dan Nuha belum juga bisa keluar karena aku yg tak bisa mengedan, akhirnya menguatkan doa , dokter juga terdengar menguatkan doanya, meminta pertolongan Allah.. tapi aku masih kuat, aku tak menangis.,dan saat dicoba lagi Alhamdulillah...putri kecil ku lahir, ya Robb..... Aku telah melahirkan seorang anak,, ya Robb...berapa besar kuasaMu, hamba yg lemah ini bisa menjadi seorang ibu dan melewati proses persalinan normal..sungguh rasa syukurku melebihi apapun saat itu. Suara tangis Nuha yg hanya sebentar menandakan hadirnya dan menyapa ummanya, 3 jam masa evaluasi setelah aku dibersihkan, dan Nuha sudah berada di ruangan kamar inap ku, bersama nenek dan ayahnya. Karena saat itu masa pandemi, keluarga tak boleh masuk kecuali bergantian. Papa , uwak, Abang ,kakak ,adik semua menunggu di luar dan bergantian masuk. Semua begitu bahagia, sebab untuk pertama kalinya dari 9 cucu nenek baru Nuha yg lahir normal. Maa sha Allah... Dan penantian panjang 5 tahun itu berujung bahagia, diiringi tangis mamak papa  suami dan kakak yang ikut bahagia. Alhamdulillah ya Allah, Alhamdulillah ya Allah...
Kini Nuha sudah memasuki usia hampir 5bulan. Dan ummanya tetap protektif hehe... Tak boleh sembarabgan di pegang karena masih parno sama wabah virus. Jangan kan ornag lain ,sama keluarga sendiri pun umma nya rada bawel hehe... Terserah orang mau memaklumi apa tidak. Yg penting amanah Allah ini ku jaga dengan baik. Saat Nuha bersama yg lain aku masih merasa cemburu. Walau setiap hari bersamanya, namun rasanya waktu tak cukup, ingin terus bersama nya. Izinkan lah ya Allah...
Semoga Nuha tumbuh menjadi anak yang Sholeha ,cerdas,tegas ,dan kuat namun teetap berhati lembut. 
Menjadi sebaik baik insan. Aamiin.
Ruqayya Izzatun Nuha
Ruqayya di ambil dari nama Putri kedua Rasulullah bersama Ummahatul mu'minin Siti Khadijah.,ia adalah putri yang santun lembut dan patuh pada kedua orang tua serta sabar , ia juga istri dari seorang lelaki mulia ,tampan dan dermawan ,sahabat Rasulullah yaitu Khalifah Usman bin Affan, semoga segala sikap baiknya ada dalam doa yg terselip pada nama anak kami.
Izzatun, Izzah adalah ketegasan, pendirian,kemuliaan yg sering kita dapati kata ini dalam Al Qur'an, Tun itu sendiri adalah nama dokter yang membantu persalinan umma. Dan Nuha adalah kata yg ada dalam Al-Qur'an yang di ulang beberapa kali, yang artinya orang orang yg berakal atau cerdas. Demikianlah doa yg kami selipkan pada nama anak kami. Bagi kami Nuha adalah amanah berharga dan akan kami jaga,. 

Selasa, 15 September 2020

Ta'aruf Ai

Sepertinya mereka puas mentertawakanku. Astaghfirullah. 
Haruskah aku membenci?

"nak... Sudah ah jangan nangis, lupain aja, anggap aja gak pernah terjadi, anak gadis ibu ini siapa sih yang gak mau? Udah cantik, pinter, sholeha lagi, " Ibu ku mencoba  menenangkan, setelah di group whatsapp teman teman  SMA heboh dengan gosip yg beredar ulah laki laki itu, Andra dan di sambut oleh beberapa teman yg risih dengan ku sejak masa panas politik tahun lalu, beda pilihan membuat mereka anti kepadaku.
"mereka tega bu,... Kalau memang mau jadi kan Ai mainan, gak perlu sejauh ini. Dulu memang Ai pernah menolak Andra karena Ai memang gak mau pacaran. Tapi Ai gak menyangka dia sedendam itu sampai sampai mempermainkan Ai, dengan pura pura meminta Ai jadi istrinya, lewat kak Yuni pula. Dan setelah sejauh itu, sampai proses ta'aruf, bisa bisanya dia menggagalkan dan bilang kalau semua seri, supaya Ai merasakan gimana sakit hatinya dia saat Ai tolak dulu" jelasku kepada Ibu yg dari tadi mencoba menenangkan ku setelah air mataku jatuh saat membaca olokan beberapa teman di group dan aku memutuskan keluar dari group tapi tak sedikit yg bersimpati dan mengutuk sikap Andra dan beberapa teman ku. Mungkin niat mereka bercanda, tapi keterlaluan rasanya. 


"sudah ah... Tadi abang bilang ada temannya yang mau kenalan sama kamu,nanti malam dia datang, kamu siap siap ya"
"temannya yang mana bu?"
"katanya sih.. Teman pengajian nya"
Siapa ya? Teman teman abang, seumur dia kah? Sudah tua donk?

Malam pun tiba, aku di suruh keluar kamar sama ibu, karena ada yg mau berjumpa. Oh.. Mungkin itu dia teman abang. Aku menuju ruang tamu di sana susah ada abang,kakak ipar dan temannya saat ku lihat sepertinya usianya jauh di bawah abang.
"Nah ini Mas Fikri, adik saya Aisyah, sini dek duduk" abang ku menarik tangan ku dan aku duduk di antara kakak ipar dan abang ku sambil menundukkan pandangan.
" oh.. Iya bang" hanya itu ucapannya. 
Dan seketika suasana hening cukup lama sekitar 15 detik.
" wah... Jadi pada canggung nih ya..Ai, mas Fikri ini sedang cari calon istri, dan dia tanya ke abang, punya adek perempuan atau tidak, ya abang suruh saja datang ke rumah, kalau pun gak berjodoh kan bisa menambah teman kan? Mas Fikri ini gak jauh beda usianya dengan kamu sekarang beliau menjabat pimpinan di salah satu Bimbingan Studi yg  sudah cukup besar namanya, dan rencana mau lanjut S2 ke luar negri ya kan mas Fikri? "
" eh.. Iya, bang... Cuma jabatan biasa biasa aja koq" sambung nya. 
"nah ini adek abang namanya Aisyah. Biasa di panggil Ai, dia lulusan s1 jurusan matematika" 
"oh.. Ya.. Wah pinter donk ya" 
Aku cuma senyum tipis, candaan nya garing. Pikirku.
Dan akhirnya kami ngobrol ber empat, ternyata orangnya Asyik juga. Setelah pertemuan itu, beberapa kali  dia tanya kabar, atau tanya hal hal lain seputar aktivitas masing masing yang masih pada batasnya. 

Dan aku masih menganggapnya teman biasa, dia juga beberapa kali ke rumah, dan nampaknya semakin akrab dengan keluarga ku. Sepertinya juga ayah suka dengan sikapnya. 
Sampai saat kami mengobrol bersama dan dia menyampaikan niat baiknya ke Ayah dan Ibu ku untuk melamar. Dan aku segera mengabarkan ke kak Yuni perihal ini. 

Waktu itu pun tiba, dia bersama keluarganya datang melamar ku. Perkenalan keluarga dan penentuan hari baik untuk pernikahan kami. Semua nampak berjalan sempurna tanpa celah. Dan Ayah Ibu tampak bahagia, akhirnya gadis paling kecilnya kini akan menikah dengan orang yg sudah mereka kenal baik. 

3 minggu sebelum pernikahan, malam itu Aku dan keluarga mulai membicarakan persiapan- persiapan, dan desain undangan pun sudah aku buat sendiri tinggal di antar ke percetakan. Ayah dan Ibu berencana akan mengunjungi sanak saudara untuk mengabarkan kabar baik ini.  
Dan malam itu aku memilih tidur lebih awal karena besok harus mengajar full time sampai sore, ada kelas tambahan di salah satu Bimbel tempat ku mengajar part time. Setelah sholat Isya aku bergegas ingin tidur, tiba tiba hape ku berdering, panggilan dari " Mas Fikri" ah... Kenapa dia nelpon jam segini ya. 
"Assalamu'alaikum mas.." 
"Wa'alaikumsalam Ai.." 
"Ada apa mas?" 
"Sudah tidur?" 
"belum, ini baru mau tidur" 
"o.. Maaf mas ganggu, tapi ada yang mau mas bicarakan. Boleh?" 
"ya sudah, ada apa mas?"
" tadi sore mas dapat email, mas di terima di universitas yang mas impikan selama ini, mas akan melanjutkan S2 di sana " 
"Alhamdulillah.. Barakalloh.. Semoga berkah ya mas.. Terus kapan mas mau kesana?" 
"nah.. Kabar kurang baiknya, mas harus segera menyelesaikan beberapa hal dan berangkat ke sana dalam waktu dekat," 
"pernikahan kita gimana mas?" 
"kita tunda dulu ya, mas mau fokus ini dulu, nanti mas telpon Ayah dan Ibu" 
"o gitu.. Ya gak masalah sih, toh juga undangan belum di cetak dan kami juga berencana besok baru berkabar ke keluarga, sampai kapan di tunda mas?" 
"em... Itu mas belum tau, tunggu nanti bagaimana keputusan nya ya. Yang pasti ini impian mas sejak lama dan kesempatan baik, mas mau kejar cita cita mas ini, Ai tau kan? Bagaimana perjuangan mas bisa masuk ke jurusan dan Universitas ini". 
"o.. Ya udah, kalau Ai sih gak masalah. Ya... Semoga mas bisa sukses dan impian mas tercapai."

Setelah pembicaraan itu, kami tak lagi dapat kabar apa apa, Abang juga tak bisa menghubungi keluarga dan Mas Fikri untuk menanyakan kelanjutannya. 
Sebulan,dua bulan dan setelah hampir memasuki waktu 3 bulan. Barulah aku mendapat pesan singkat dari nomor luar negri, ku lihat fhotonya, fhoto mas Fikri, tapi dengan siapa? 
" Assalamu'alaikum Ai, maaf mas baru bisa menghubungi, Mas sibuk dengan urusan mas. Ai, hubungan kita nampaknya gak bisa di lanjutkan. Dan Mas minta maaf karena disini mas sendiri, mas coba cari teman yabg bisa menemani mas, dan mas jumpa dengan anak teman Mama mas. Dan kami menjalin hubungan. Mas minta maaf ya Ai, mas yakin ini semua gak akan berpengaruh ke Ai, karena Ai adalah perempuan kuat, semoga Ai bisa dapatkan yang terbaik lebih dari mas. "

Bak petir menyambar. Ah... Ini kedua kali nya aku gagal menikah dan di kecewakan. Di kecewakan keadaan, syukurnya bukan hati ku. Perasaan ku memang masih biasa biasa saja dengan Mas Fikri. Pun dengan Andra dulu, aku hanya ingin jatuh cinta setelah menikah. Tapi tentu kondisi ini merugikanku dan merugikan orang tua ku. Kiranya dia memberi tahu lebih awal, tentu tidak membuat kami digantung seperti ini. 

Perlahan aku mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan ini semua ke keluarga ku saat kami semua kumpul. 
Ayah, Ibu, Kakak dan Abang sangat kecewa, terlebih Abangku, beliau merasa bersalah karena sudah mengenalkanku dengan laki laki itu. 
Abang berulang minta maaf kepada kami, dan terutama pada ku. 
Ah... Sudahlah.. 
Saat ini aku memutuskan akan fokus pada karir ku dulu dan tak ingin memikirkan pernikahan. 

Saat berada di titik terendah, yaitu... Ketika semua teman teman yang biasa membersamai hari hari ku, satu persatu menikah dan resign dari tempat kerja ku, demikian pula teman teman yang lain, dan teman teman sehalaqoh juga. Tak ada lagi teman jalan, bercerita seperti dulu. Masing - masing sudah sibuk dengan keluarganya. 
Hanya tinggal aku dan Ana, 
Ini membuat ku dan Ana seperti anak kembar, kemana mana sama. Kami merasa senasib, bukan tak bisa kami menikmati masa masa muda dengan pacaran, tapi tentu bukan itu yg membuat hari hari bahagia, melainkan memperbaiki diri dan semakin dekat padaNya. Dan menyibukkan diri dengan hal hal positif. 
Teman teman, pimpinan ku, Tante dan om juga beberapa tetangga beberapa kali menawarkan perjodohan padaku. Tapi aku belum siap rasanya, ada rasa trauma, tak ingin dikecewakan lagi, kasihan keluarga ku, terutama Ayah dan ibu. 
Aku hanya menunggu,, seseorang yg terbaik datang pada ku. Dan menjawab istikharah ku. 
Biarlah aku menunggu yang terbaik, sambil terus memperbaiki diri. Janji Allah kan pasti. 

****
3 bulan sejak kejadian itu... 


"sudah 25 tahun mau kapan lagi berumah tangga?"
Pertanyaan klasik bagi anak gadis yang sudah selesai kuliah dan kerja di usia rawan kata orang. Bukan cuma dari keluarga, dari tetangga rt, rw, lurah, tingkat kabupaten, provinsi sampek nasional. Hahaha..
"nanti kalau sudah ada jodoh nya pasti menikah Bu, sekarang belum ada yang datang melamar" jelasku dengan hati selapangan bola kaki ke Ibu tetangga yang juga ikut rewang (bantu masak di hajatan tetangga) di pernikahan teman ku sekaligus tetangga ku.
"loh... Zaman sekarang gak harus nunggu dilamar, kita yang lamar juga bisa koq," lanjutnya dan aku hanya tersenyum.
"eh, ini... Temen mu ini bisa dapat laki laki ganteng mapan ya karena udah kecelakaan duluan, ya harus gitu...nyodorkan diri dulu, kalo gak ya dapat nya yang biasa biasa aja"
Ucapnya setengah berbisik agar tak terdengar yang lain, aku  kaget mendengar nya, bisa -  bisa nya ibu ini membuka aib orang lain dan membenarkan pula hal yg salah . Astaghfirullah... Menyesal rasanya duduk di sebelah ibu ini, dan aku pun berpura-pura ambil kerjaan yang lain sebelum ceritanya melebar kemana mana.
"eh bu, ini sudah mau selesai, saya lanjut bantu bu Siti dulu ya kupas kentang " alasan ku meninggalkannya. 
"o.. Iya iya..." katanya melanjutkan kupas bawang merah.
Ku dekati bu siti yang tengah asyik bercerita dengan yg lain sambil kupas kentang, lalu aku ikut bergabung, mereka pasti asyik cerita sendiri dan gak akan sadar kehadiranku.
Tapi...
"eh..Ai... Kamu kapan lagi lo? Cantik, mapan, anak kuliahan, baik lagi... Masak gak punya pacar sih? Teman mu ini aja bisa dapat cowok ganteng karena..."
" eh aduh..Aisyah lupa bu tadi di rumah rebus air.. Bentar ya bu.."
Hufhttttt... Tak mungkin aku lanjutkan kondisi begitu, menceritakan orang yang sedang hajatan. Ya.. Aku tau memang apa yg telah di lakukan teman ku adalah dosa, dan salah bahkan sangat salah. Tapi aku tidak punya hak untuk berghibah tentangnya. Dan gak mau makan bangkai saudara sendiri. 

###
Mata ku masih berat untuk terbuka, tapi jam menunjukkan sudah pukul 05.00 pagi dan Azan subuh pun sudah mulai bersahutan. Hajatan kemarin dengan hiburan nya membuatku susah tidur. Suaranya memekik telinga.
Aku bergegas ambil wudhu' dan sholat subuh. Selepas sholat dan tilawah, ku ambil hp dan melihat aplikasi  kalender hijriah  oh sudah memasuki ayyamul bidh ternyata, artinya besok aku akan puasa. Dulu.. Aku ingat sekali pesan abang sepupu ku, tentang bagaimana dia bisa menjaga dirinya dari pacaran yaitu dengan banyak banyak berpuasa. Dan Tips itu aku ikuti, Alhamdulillah aku tak tergoda dengan pacaran walaupun banyak juga teman atau kenalan yang berniat mengajak pacaran. Semakin tau bagaimana pacaran itu aku semakin tak tertarik malah merasa rugi. Kalau teman ku bilang pacaran itu asyik jadi punya kesibukan sendiri dengan pacar, ada yg perhatikan dan kayak simulasi pra nikah. Haha... Ada ada saja pikir ku. Padahal pacaran itu merugikan waktu, fisik bahkan psikis. 

Tak lama pesan whatsapp  masuk dari murobbiah ku. 

"Assalamu'alaikum dik, hari ini kita jumpa di mushola depan kompleks ya jam 10 pagi , bareng Ana juga. Ada yang mau kakak bicarakan"

Duh..apa ya kira kira.. Pikirku. Ini pertama kali kak Yuni seserius itu. Apakah ada tugas mengisi pengajian? Ah.. Biasanya dia cukup meneleponku saja. 

"Wa'alaikumsalam warohmatullah, baik kak. Nanti Ai kesana"

Tepat jam 10 aku sudah tiba di mushola tapi kak Yuni belum tiba, dan seorang akhwat berjilbab hijau pupus dengan gamis senada memakirkan kereta nya. Ana teman sepengajianku. 
"Assalamu'alaikum Ai.." 
"wa'alaikumsalam na.. Kak Yuni belum datang nih, tumben ya biasa nya beliau on time" 
"oh.. Iya ya... Mungkin masih ngurusin Nabil kali Ai, kita tunggu aja. Aku penasaran banget kak Yuni mau bilang apa ya" 
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Ana, kak Yuni pun tiba 
" eh udah kumpul.. Assalamualaikum" 
"wa'alaikumsalam kak.." jawab kami serempak.
"yuk..dimana kita ngobrol yang asyik dan lebih privasi ya?" 
"o.. Gimana kalau di cafe Kartini aja kak, tempatnya bagus dan ada gazebo nya gitu"
"o.. Ya udah yuk.. Kesana". 
Kami melanjutkan perjalanan kami ke cafe dengan pertanyaan di benak kami masing masing, aku dan Ana. Apa gerangan kak Yuni memanggil kami.

Setiba nya di cafe, kami langsung ambil tempat yang agak menyudut dan nyaman. Kak Yuni langsung membuka pembicaraan. 

"Kakak punya dua cv satu buat Ana dan satu buat Aisyah, silahkan kalian liat dan baca" 

Deg.... Kaget dan saling melempar pandangan. Ternyata kak Yuni memberikan cv bakal calon suami kepada kami. Duh... Aku jadi salah tingkah. 

Bismillah.... 
Ku buka amplop coklat berisi data seorang ikhwan yang telah memilihku untuk menjadi bakal calon istrinya dan tengah menunggu keputusanku kini, demikian juga dengan Ana. 
" hah... Mas Alfi, ini kan....." 
Benakku. Aku baca dengan detail data serta kriteria istri yg di cari nya. Oh sungguh aku bukan tipe nya, aku bukan akhwat yang lemah lembut, apalagi feminim. Aku tampil apa adanya dan cuek serta jauh dari kata feminim. Sedang mas Al... Mas Al adalah sosok yang sangat dikagumi dan disegani di kampus ku dulu, jangan kan menyapaku melihatku saja mungkin dia tak pernah, apalah aku dibandingkan akhwat akhwat yg aktif, pinter dan sholeha lainnya. Tapi kenapa aku? Apa kak Yuni salah kasi ya? 

"kakak mulai dari Ai dulu ya.. Gimana Ai? Tanya saja jangan sungkan, dan kakak percaya kalian berdua saling amanah untuk ini" 

In sha Allah kak...jawabku dan Ana berbarengan. 
"jujur Ai kaget kak.. Beliau ini sangat disegani dan dikagumi dulu, tapi kenapa bisa ke Ai, kakak gak salah?" 
Kak Yuni hanya tersenyum kecil 
" tidak Ai.. Beliau langsung yang menunjukmu"
"ha... Yang benar kak, Aisyah? Aisyah Zafira? Bukan Aisyah yg lain kak?"tanya ku meyakinkan. 
"tidak Ai,, dia lengkap menyebutkan nama mu dan jurusan serta kampus. Masak kakak salah?" 
"Oh... "
Tak menyangka rasanya, ah.. Tapi ini bukan prestasi, hanya aku penasaran saja. Koq bisa? 
"Aisyah istikharah dulu kak, lusa Aisyah kasi jawaban"
Sedang Ana langsung mengiyakan karena dia sudah ingin segera meninggalkan rumahnya, sebab ibu dan Ayahnya sudah tiada, dia tinggal bersama kakaknya yang sudah menikah. Tidak lumrah rasanya dia tinggal disitu, walaupun abang ipar nya memang terbilang jarang ada di rumah, karena sibuk kerja. Tapi dia tetap tak enak hati. 

Hari yang sudah ku tentukan untuk memberi jawaban pun tiba. Aku juga sudah membicarakan dengan Ayah dan Bunda ku, serta Abang dan kakak ku. Mereka setuju saja asal aku bersedia, dan  mencari tau tentang Mas Alfi agar tidak terjadi lagi hal hal yg tak di inginkan, tapi entah kenapa aku begitu semangat kali ini. Aku ambil hape ku dan menelepon kak Yuni. 
"Assalamu'alaikum kak, Ai mau kasi jawaban yang kemarin kak," 
"wa'alaikumsalam warohmatullah dik, iya.. Kakak juga sudah menunggu telpon mu, jadi bagaimana?" 
"Bismillah.. Ai terima kak dan siap untuk proses selanjutnya.." 

Hati ku tak karuan rasanya, antara masih yakin dan tidak dengan mas Alfi, pasalnya bagaimana bisa dia mengenalku dan mau menjadikan ku calon istrinya, ya walaupun sebenarnya proses ini belum menentukan untuk kami berdua. Tapi ah... Sudahlah.. Bismillah saja. 

Proses ta'aruf pun tiba, ba'da Ashar aku di temani kak Yuni dan suaminya menanti kedatangan Mas Alfi dengan murobbi nya di rumah kak Yuni. Aku yang sedari tadi di kamar bersama kak Yuni menemani Nabil yang akan tidur, mendengar suara mesin mobil yang berhenti di depan rumah, dan terdengar suara suami Kak Yuni menyambut mereka. 
"mereka sudah datang Ai, kita keluar ya,, ingat... Tundukkan pandangan dan perbanyak dzikir". 
"iya kak, in sha Allah" 

Aku tak berani melihat mereka,pandangan ku tunduk dan jantung ku berdebar tak karuan, ujung ujung jariku terasa dingin bukan main. 

Pembicaraan pun di mulai, dengan pembukaan dan perbincangan umum seputar ta'aruf oleh kak Yuni, suaminya dan murobbi mas Alfi.

"Jadi bagaimana mas Alfi, ada yang mau di tanyakan?" tanya suami kak Yuni kepada nya

"emm... Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh"
"wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh" jawab kami serentak 
"sebelumnya saya minta maaf jika ini mengagetkan ukhti Aisyah, jadi saya memilih ukhti karena ukhti adalah jawaban dari istikharah saya, untuk alasan lain, saya tidak punya alasan apapun selain mencari sosok istri dan ibu yang baik buat saya dan anak anak saya kelak"
Haduh... Sampai sini aku bagai es yang melumer, Jantung ku semakin tak karuan. Ruangan yang ber Ac itu semakin dingin ku rasa, bagai di kutub Utara hahaha...
"saya juga berterimakasih karena ukhti sudah mau melanjutkan proses ini, semoga segala sesuatunya Allah berkahi dan Ridhoi, hanya itu yang ingin saya sampaikan selebihnya saya serahkan kepada ukhti Aisyah" lanjutnya. 

Masa' sih, dia gak nanya aku bisa masak apa gak? Bisa nyuci apa gak? Nerima aku gitu aja, ah.. Yang benar aja, apa ada yg gak beres? atau memang jalannya semudah ini ya. Aku jadi dihantui rasa takut, terbayang bayang gagal menikah dua kali, apakah harus ku alami yg ke tiga kali? 

"bagaimana Ai, ada yang mau disampaikan dan di tanyakan?" tanya kak Yuni padaku. 

"bismillahirrohmanirrohim, Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, emm.. Ya..saya pun demikian pula hal nya, setelah istikharah baru saya berani memutuskan untuk kelanjutan proses ini, Allahu a'lam alasan apa yg membuat saya yakin, semua saya serahkan kepada Allah dan juga sudah meminta Ridho kedua orang tua juga keluarga yg lain. Tapi.. 
Saya tidak seperti yg dituliskan di bagian kriteria istri antum akh, 
Saya ini sedikit cuek, dibilang lemah lembut juga tidak, saya juga tidak begitu pandai mengerjakan pekerjaan rumah dan jauh dari kata sholiha. Apa antum bersedia menerima saya menjadi istri? "
" nah.. Gimana mas Al, ukhti Aisyah nanya tuh" lanjut murobbi mas Al
Aku tak tau ekspresi wajahnya bagaimana setelah mendengar penjelasanku.
"saya.. Tidak cari pembantu ukh, dan saya juga tidak cari yang sempurna, karena saya sadar diri siapa saya, sebenarnya.... saat saya melihat ketulusan anti menjaga ibunda saya saat ibu saya hampir  pingsan di pasar dan anti yang membawa ibu saya ke rumah sakit, dan saat tau ibu saya hanya punya dua anak saya dan kakak saya, dimana kakak saya tinggal di luar kota, dan saya adalah anak yatim sedang saya waktu itu lagi sidang S2,  anti bersedia menemani ibu saya sampai salah satu keluarga datang. Setelah selesai sidang saya menelepon ke hp ibu tapi yang mengangkat adalah bi' Jur, beliau bilang sejak pagi Ibu ke Pasar namun belum juga pulang. Saya langsung menuju ke pasar dan ke tempat pedagang yg biasa ibu datangi ketika saya menemani nya ke pasar, dan syukurnya pedagang menjelaskan apa yg terjadi, saya berinisiatif mencari ke rumah sakit terdekat, dan menanyakan ke resepsionis langsung,Alhamdulilah ibu ada disana dan resepsionis memberi tahu ibu sedang berada di ugd , dan melihat anti begitu tulus menemani ibu saya, bahkan menyuapinya makan. Saya hanya menunggu di depan pintu UGD dan melihat dari balik kaca pintu, sampai salah seorang perawat datang dan saya meminta agar perawat menyuruh anti pulang dan mengatakan perawat itu  yg akan menemani ibu saya,  agar anti bisa beristirahat, setelah anti pulang baru lah saya masuk"
Deg...ah kejadian itu ternyata... Aku saja hampir lupa sekitar 8 bulan yg lalu saat aku juga belanja di pasar dan melihat seorang ibu yang berjalan sempoyongan aku dengan sigap menangkap badannya dan langsung minta tolong agar membawakan kami ke becak dan segera ke rumah sakit terdekat. Ternyata itu ibu mas Al... Ya Allah... Betapa tak terduga skenario Mu.
"Saat saya masuk ke ruangan, saya langsung memeluk ibunda saya dan menanyakan apa yg terjadi, Ibu saya langsung berkata, kalau ada perempuan cantik berjilbab besar yang menolongnya bahkan mau menungguinya, dan saat saya tanya apakah ibu mau saya menikah dengan perempuan yabg bersama nya tadi, ibu saya langsung mengatakan Alhamdulillah, kalau kita berjodoh kelak, dari kejadian itu, saya berdoa agar Allah permudah ubtuk menjadikan ukhti pendamping saya, lama saya menunggu waktu yg tepat serta banyak juga rintangan yg saya hadapi salah satunya saat tau setiap ana bertanya tentang anti, ustadz Idris berkata anti sedang dalam proses, dan itu 3 kali ana tanyakan, sampai akhirnya ustad Idris sendiri yang menghampiri ana dan menanyakan, dan Alhamdulillah sampai lah ke proses ini."

Tak terasa air mataku mengalir, dan segera ku seka. Aku hampir trauma untuk menikah setelah 2 x gagal. 
Gagal 1 kali ta'aruf dan bahkan terakhir sampai proses lamaran. Ternyata sedang ada yang diam diam menanti ku dalam doanya. Tanpa memaksa, tanpa dengan cara yang tidak di perkenankan dalam agama. 

"maa sha Allah.. Kisahnya ya... Ai... Jangan nangis donk" kata kak Yuni menggoda ku

" saya tak menyangka ternyata itu alasannya, saya juga sempat bingung kenapa antum memilih saya, Jazakallah atas doa doa baiknya" kataku. 

"baik karena sekarang sudah tidak ada yang mau di tanyakan lagi. Silahkan mas Alfi lihat calon nya nih, bener gak nih orang nya" 
Aku tunduk sambil berdegup mungkin tingkat kemerahan pipi ku sudah di ambang batas haha... 
"udah  jangan lama lama nanti gak bisa tidur, sekarang gantian Aisyah lihat Mas Alfi," 
Perlahan ku angkat kepalaku. Dan melihat wajahnya yang tertunduk sendu. Astagfirullah, segera ku alihkan pandangan ku. 
"baik... Karena sudah saling mengenal, nanti di lanjutkan ke keluarga masing masing untuk proses ta'aruf keluarga dan lamaran, semoga Allah mudahkan" 

Tak perlu memakan waktu yang lama, sebulan proses yg kami lalui dan kini ada seseorang yg tengah sibuk membuatkan teh hangat untuk ku dan memijat kaki ku. 
"ini baru masuk angin karena cuci piring mas, gimana kalau adek hamil nanti ya? Mas bisa lebih repot lagi" 
" gak apa apa sayang, semakin mas repot, adek semakin cinta ke mas kan?" 
.... 

Tiada yang tau skenario Nya, manusia hanya bisa menduga dan menyusun rencana, Allah jua yang menentukan. 
Tak pernah terfikir oleh ku akan menikah dengan sosok ikhwan yang sungguh membayangkan nya saja aku tak berani karena sosok nya sangat jauh dengan aku yang apa adanya, dan bukan siapa siapa. Namun, mungkin ini cara Allah agar aku semakin dekat denganNya, semakin taat dan istiqomah lewat bimbingan imam ku kini. 
Jodoh.... 
Bukan perkara mudah, bukan perlombaan siapa cepat, bukan sekedar untuk memenuhi ruang dan waktu. Namun untuk teman memperbaiki diri, teman saling mengingatkan, teman membina surga bersama. 
Sakinah hingga ke Surga itulah tujuannya. 
"Jodoh pasti bertemu" 

Tulisan ini ditulis oleh umma Nuha (IntanZhr) 
Di larang mengcopy paste tulisan ini tanpa menyertakan pengarang aslinya. karena di lindungi oleh hukum.  Silahkan share jika bermanfaat

Kamis, 10 September 2020

Siluet Cinta

####
"Mas... Stok keperluan udah habis, susu dan diapers Arkan juga udah tinggal dikit lagi. Uang yang mas kasi kemarin sisa 50rb aja di dompet adek"
Aku... Mendekati suami ku yang sedang sumringah menikmati video lucu di hape nya, sulit untuk menemukan waktu untuk berbicara seperti ini dengan nya, karena dia orang yang kurang bisa menahan diri untuk ku dan keluarga nya jika ada suatu masalah, ia cenderung mudah marah dan emosi. Namun tidak demikian dengan lingkungan luar. Sejak aku memutuskan berhenti kerja karena mau fokus mengurus anak, ia jadi sering uring uringan, padahal ia sendiri yang memaksaku untuk berhenti kerja. Semenjak berhenti kerja, aku jadi tak punya uang simpanan untuk keperluan ku, atau pun untuk mengirim ke orang tua ku, semua terbatas. Aku kini bergantung dengan apa yg diberi suamiku. Kalau di belikan ya syukur, tapi lebih sering jawabannya "nanti nanti aja".
Pernyataan ku tadi tak di gubris nya, lalu aku coba membuat dia mengalihkan pandangan pada ku, sambil mengelus punggung tangannya.
"ya sudah nanti kita beli" katanya agak cuek. 
Hah... Hanya itu saja yang ia sampaikan.. Baiklah... Itu saja cukup buatku tenang, daripada ia harus membarengi dengan amarahnya.

Besoknya, stok sudah benar benar habis, tapi ia tak juga kunjung memberi ku uang atau mengajakku belanja bulanan.
Ingin ku ulang pertanyaan ku, tapi aku takut kena marah, apalagi kondisi ku yg seperti ini. Stress hanya akan membuatku tambah tidak stabil.

"Mas jadi belanja hari ini, adek bersiap ya? Arkan udah adek mandikan" mungkin dengan seperti ini dia akan sedikit sadar. 
"mau kemana?" tanya nya dingin
"stok kita sudah habis sayang, popok dan susu juga sudah habis"
" tapi masih ada yang mau dimakan kan?"
"ya.. Untuk hari ini sampai besok ada"
"ya udah itu aja dulu, mas capek nih" aku menghela nafas mendengar ucapannya itu. 
"mas...udah sholat ashar?"
"hmmm" jawabnya,  hanya itu, ya.. , dan itu membuat ku ingin menjerit, tapi apa aku lebay? Apa masih ada yg lebih buruk nasibnya dari aku? Ah tentu ada... Astagfirullah...

Aku bergegas melihat anak ku, yg ku tinggal di kamar bermain tadi, lalu ku peluk sambil menangis. Anakku yang masih 8 bulan itu, memberi isyarat yang membuat ku gemas dan tersenyum. Ah... Allah...
Bukan tak bisa aku berpenghasilan seperti dulu, tapi aku lakukan ini semua demi anakku, aku tak ingin ia di asuh orang lain.

Hari ini aku tak ingin lagi menanyakan kepada suamiku, aku tau dia baru saja dapat bonus dari kantor, dan masih banyak uang masuk lainnya. Tapi ia kini tak seperti dulu, tidak lagi terbuka, bahkan uang yang diberikan kepadaku semua pas pasan. 
Aku manfaatkan saja uang 50rb yang ku punya untuk beli keperluan anak ku walaupun hanya dalam ukuran kecil, susu sachet, diapers satuan, sayur dan ayam beberapa ons saja untuk memenuhi gizi nya, Alhamdulillah cukup. Sisanya aku belikan telur satu butir yang ku dadar melebar dan di bagi dua untuk makan siang ku dan makan malam ku. Suami ku pasti sudah makan di kantor. 

"tuh.. udah ada susu nya?" 
Aku tak menggubris perkataannya, aku siapkan teh untuknya dan baju gantinya. 
"dapat uang dari mana?" lanjutnya 
"uang sisa 50rb kemarin" 
"koq bisa cukup?" 
Tak tahan lagi rasanya, lalu aku mulai berkata panjang kali lebar kepadanya. 
"maaf mas, adek sudah beberapa kali mengulang pertanyaan yang sama tapi mas gak menanggapi, adek sudah bilang kemarin kan semua udah habis, dan uang adek hanya sisa 50rb, sisa 50rb yang adek manfaatkan, sampai adek makan siang dan malam pakai telur yang adek bagi dua"
Tak terasa air mataku mengalir.. 
"adek gak minta uang mas, adek cuma minta mas perduli sama keluarga, peka dengan kondisi kami"  ku mencoba menjelaskan, berharap dia luluh. 
"udah di kasi koq minta lebih, ini yang mas gak suka, apa apa nyalahkan mas. Udahlah... Mas mau istirahat" 

Hanya itu.... Ya lagi lagi hanya itu.... 
Tak tahan rasanya, tapi apa harus alasan ini akan menggoyahkan rumah tangga kami? Di luar sana masih banyak yg lebih parah. 

Malam ini aku berfikir keras, bagaimana agar bisa keluar dari kondisi ini, akhirnya aku memberanikan meminta pendapat kepada murobbiah ku, dia punya perusahaan kecil, bolak balik menawarkan pekerjaan untuk ku, karena aku mumpuni dalam hal management, akhirnya ia memberi saran untuk tetap bisa bekerja dengan membawa si kecil ku ikut bersama ku, aku hanya perlu standby di ruang kantornya yg cukup privasi karena satu ruangan untuk satu orang. Ku lanjutkan istikharah ku di sepertiga malam dalam sujud yang panjang, dalam deru airmata yang dalam. Suami ku... Tak lagi seperti dulu, aku tak tau apa yang membuat ia berubah., apakah ada wanita ketiga? Ntahlah, tapi setau ku tidak, dia sangat perhitungan sekali, dan dia juga tidak pernah mengunci hp nya, ia juga membebaskan ku memakai hp nya. Apa untuk keluarganya? Kalau ya,, tentu itu tidak masalah untuk ku, karena kadang aku yg mensupport nya untuk selalu berbagi kepada orang tuanya. Karena itu kewajibannya. 

Hingga subuh... Aku masih tertidur pulas di sajadah, lalu aku bangun dengan mata sembab, ku bangunkan suami ku... 
"mas... Sholat, udah subuh" 
"iya..." 
Yah.... Akhir akhir ini ia juga sering meninggalkan sholat terutama isya dan subuh. Aku hanya bertugas mengingatkan selebihnya ku serahkan kepada Allah. 

Pagi lagi,aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan. 
Ia pun heran, aku sudah rapi pagi pagi sekali. 
" mau kemana? Koq udah rapi," 
"o iya, sekalian mau minta izin, hari ini adek mau bawa Arkan melamar kerja" 
"koq baru bilang sekarang? Udah gak anggap mas suami lagi ya?" 
"karena masih adek anggap, makanya adek minta izin" 
"gak... Gak boleh, Arkan jangan di bawa kerja"
" lalu kami mau makan apa?" 
" wah.. Bicaranya udah kayak gak di kasi nafkah aja ya, baru sekali telat ngasi uang, udah berlagak seperti ini. Kamu mau nya sebenarnya apa? Mau di kasi uang berlebih biar bisa beli ini itu? Liat dulu, kamu tu boros banget, semua semua di beli, royal banget, sampek kita gak punya tabungan. Sekarang saat mas berusaha untuk menabung kamu seperti ini"
" bukannya dulu adek punya tabungan mas, adek nabung dari uang yang mas kasi, dan uang adek sendiri, kita bisa bayar hutang lama kita,bantu keluarga saat kesulitan, kita bisa melengkapi keperluan saat lahiran dan anak kita, kita bisa bayar dp rumah, bukannya itu dari uang yg adek simpan. Sekarang ya sudah habis, kan di pakai".
"iya...setelah itu..." 
"setelah itu memang adek beli keperluan berlebih untuk Arkan, untuk mpAsi Arkan adek beli yg terbaik, untuk susu Arkan adek beli yg bagus, untuk beli keperluan rumah juga, tapi sedikit pun adek gak ada pakai untuk kepentingan adek sendiri, tapi untuk keluarga kita, kita pakai sama sama" 
"ya itu... Boros namanya." 
"oke.... Adek minta maaf, kalau  memang adek boros ubtuk anak kita, dari kemarin itu adek juga udah minta maafkan, adek juga gak marah saat mas batasi keuangan untuk keluarga ini. Itu hak mas, tapi kalau adek sampai susah makan, anak kita sampai gak bisa beli keperluan nya, adek kan harus bertindak mas"
"jadi sekarang kamu mau apa?" 
"adek mau kerja mas, sambil jaga Arkan, adek sudah diskusi dan diizinkan dengan kak Naya. Alasan adek, adek hanya ingin berkarir saja" 
" oke silahkan kamu kerja, dan bawa Arkan, tapi mas gak akan kasi uang untuk keperluan kalian" 
Ia pun berlalu meninggalkan ku... 
Sakit sekali rasanya,, dunia serasa menghimpit. Aku ambil Arkan dari kereta dorongnya lalu aku lajukan motor yg diberikan ayah ku dulu, menuju kantor kak Naya, aku bawa perlengkapan Arkan semuanya. Sambil memohon ampun kepada Allah di sepanjang jalan. Aku takut Allah marah, tapi aku tak tau harus berbuat apa, aku sudah bersabar rasanya, walaupun Sabar ku hanya sekecil itu. 

Sampai di kantor kak Naya, aku disambut nya hangat, seolah dia tau kegelisahan ku. Aku siapkan tempat tidur dan ruang main Arkan dari perlengkapan yang ku bawa,  di ruangan kantor kak Naya yang kini ku tempati bekerja ukurannya memang tak besar hanya 2x3 meter tapi cukup membuatku dan Arkan betah.  Kemudian kebutuhan susu dan makannya juga sudah ku siapkan. Hah... Ya Allah.. Tentu  Engkau yg beri jalan kemudahan ini. Aku bisa bekerja sambil menjaga Arkan, Tugas ku membuat laporan dan rencana kegiatan perusahaan ini. Hari pertama kak Naya sangat puas dengan kerja ku. 
" seperti sudah lama kerja disini dek, langsung paham sama tugas adek" sapa ya, 
" iya kk, terima kasih, tapi maafkan saya karena harus stay di ruangan saja dan sambil menjaga Arkan ya kak" jawabku
" gak masalah dek..." 

Jelang sore kami pulang. 
Tapi... Sesampainya di rumah 
aku dapati mobil suami ku sudah di depan. Jantung ku berdebar, entah apa sudah di benak ku, 
Apakah dia selingkuh di dalam? 
Atau apa??? Ini masih jam setengah 4 kenapa dia sudah pulang? Biasanya paling cepat dia pulang jam 5 lebih sering pulang setelah maghrib. 

"Assalamu'alaikum...." 
Tak ada yang menjawab... 
Jantungku berdebar semakin kencang, sambil menggendong Arkan yang masih tertidur, aku rasanya tak ingin masuk ke rumah, aku berteriak agak kuat, aku tetap berada di depan pintu, dan masih memegang kunci motor, sekiranya ada hal yang tak ku inginkan terjadi, aku bisa teriak dan langsung lari. Astaghfirulloh... 
"Assalamu'alaikum.....Mas.... Istri mu tercinta pulang" entah apa yg kupikirkan sampai aku berkata agak berlebihan seperti itu. 
"wa'alaikumsalam dek..." suamiku keluar kamar dengan baju koko dan pecinya sepertinya baru selesai sholat Ashar. 
"adek koq gak masuk" katanya 
" gak apa apa disini saja." jawabku ketus
"dek...." Katanya memelukku dan Arkan
"maafin mas...." 
"mas selingkuh????" Spontan aku berkata seperti itu sambil melepas kuat pelukan nya hingga Arkan terbangun, dan aku sudah mau balik badan ingin pergi rasanya. 
" dek... Astagfirullah... Bukan dek... Demi Allah mas gak selingkuh, mas sayang adek, kita udah punya Arkan, tolong jangan berfikir seperti itu"
Astaghfirullah... Astagfirullah... Lalu ia melanjutkan ucapannya, 
"mas minta maaf. Karena mas sudah su'udzon sama adek, akhirnya mas kena tegur Allah," aku tak mau menjawab apapun aku biarkan dia menjelaskan semuanya tanpa ku sela. 
"Dek.. Mas tadi dimarahin manager mas, karena mas ada kesalahan buat laporan yg berakibat agen luar jadi memutuskan kontrak kerja nya dengan kami. Padahal rasanya mas sudah buat sebaik mungkin, bahkan sudah mas recheck berkali-kali, bukan hanya itu, mas juga terancam pindah divisi dna posisi jabatan yg lebih rendah. Dan mas disuruh pulang lebih awal untuk berfikir jernih sebelum besok menghadap ke dirut untuk pertanggung jawabannya. Terus, Saat di jalan tadi, mas lihat ada seorang ibu paruh baya dan  anak kecil terjatuh dari sepeda motor dan tangan kaki nya luka luka, mas teringat kalian dek... Mas samperin dan mas bantu mereka, tapi orang orang langsung datang dan bilang kalau mas yg nabrak, anehnya ibu dan anaknya itu tidak bicara apaa apa,. Akhirnya mas disuruh bawa mereka ke klinik, setelah diklinik mas selesaikan  semua administrasi nya, tapi tiba tiba suaminya datang, dan minta mas tanggung jawab, mas udah membela diri tapi gak ada yang percaya. Suaminya minta ganti rugi sebanyak 8juta, kalau gak, mas mau di bawa ke polisi.
Dan akhirnya uang yg selama beberapa bulan terakhir  ini mas simpan dan mas sembunyikan dari adek itu, harus di Gunakan untk hal seperti ini dek.... Ya Allah... 
Mas bodoh, kalau saja uang itu mas kasi ke adek untuk keperluan kita dan anak kita, juga untuk sedeqah, mungkin semua ini gak akan terjadi. Mas taubat dek... Mas sudah berlaku tidak adil akhir akhir ini, hanya karena su'udzon terhadap adek, mas takut adek kirim uang ke orang tua adek pakai uang mas. Maafin mas dek... Mas ikhlas di apain aja dek, asal adek maafin mas, tapi mohon jangan tinggalkan mas gara gara ini". 
Lemas aku mendengar semua pernyataan suami ku, entah mau marah entah kesal entah kasihan.
Aku semakin erat memeluk Arkan. 
Aku terdiam cukup lama, dan dia tetap menangis memohon dipangkuan ku.. 

Bismillah...
"sudahlah mas.... Ini pelajaran buat kita. Tanpa harus adek jelaskan Allah sudah menjelaskan ke mas terlebih dahulu. Niatkan uang itu untuk sedekah, dan berubah lah mas, berubah menjadi ayah yg baik buat Arkan. Masalah kantor, mas minta pertolongan ke Allah, jangan tinggalkan Allah lagi. Allah tak perlu mas, mas yang perlu Allah. Kita sama sama perbaiki. 
Jangan seperti ini lagi"
" iya dek,.. Adek gak usah kerja lagi, mas akan kembalikan semua seperti semula, mas janji sayang. Gak ada istri terbaik di dunia ini selain adek. Mas janji akan lebih memperhatikan keluarga ini"
" Adek minta izin,  adek jalani dulu ya mas, karena adek baru dikasi tugas untuk minggu ini oleh kak Naya, gak enak kalau harus mundur tiba tiba, Kak Maya sudah bantu adek, lagian adek juga berusaha gak akan lalai untuk tugas adek di rumah" 
" ya sudah sayang, mas akan antar jemput kalian, adek gak perlu bawa motor lagi,. Oya.. Mas masih ada uang  di atm,  ada 3 juta lagi, semua adek pegang ya, atm gaji mas juga adek yg pegang, adek yang atur semuaaaa nya, mas percaya sama adek. Hari ini kita belanja ya sayang, kita makan di luar, bawa Arkan main, dan beli semua yg adek mau". 
" terimakasih mas,,, kita beli keperluan rumah saja" 

Kadang.. Kita tak bisa mendengar lewat ucapan, padahal semua untuk kebaikan kita. Lalu setelah Allah yang menyapa lewat teguranNya, barulah kita tersadar akan kesalahan kita. Hidup ini memang tak luput dari ujian karena memang dunia adalah tempat kita di uji. Tinggal bagaimana kita menghadapi ujian ini, dengan keimanan atau dengan emosi diri. Hasil dari ujian ini akan bergantung dari bagaimana kita menghadapinya. 

*****

Tulisan ini ditulis oleh Umma Nuha (IntanZhr) 
Jum'at, 11 September 2020
Dilarang mengcopy paste tulisan ini karena dilindungi oleh hukum. Silahkan share jika bermanfaat dengan mencantumkan sumber aslinya. 

Selasa, 08 September 2020

Karunia Cinta Nya

"Bu.. Saya beli kangkung nya satu ikat dan tahu nya dua ribu saja"

"Kangkung nya 3 ikat 5ribu neng, gak mau 3 ikat aja? Kalau satu ikat 2ribu" jelas ibu penjual sayur keliling. 

"gak apa apa bu, satu ikat saja" kata ku. 

"ya udah semua jadi 4ribu neng"

"terima kasih banyak bu, yuk ibu ibu saya duluan " sapa ku kepada tukang sayur dan ibu ibu yang lain yang masih memilih belanjaan mereka. 

Aku meninggalkan tukang sayur keliling dan ibu ibu yang memilih belanjaan sembari memandangi ku, entah apa mungkin yang ada di benak mereka tentang ku. Aku memang baru di daerah sini. Aku dan suami baru saja pindah , awalnya kami masih menumpang di rumah orang tua ku sebulan setelah menikah, lalu karena suami ku sudah dapat kerja yang baru akhirnya kami memilih mengontrak rumah kecil di daerah sini. Kami pindah tidak membawa banyak barang hanya dua kali naik becak motor saja barang barang kami bisa diangkut semua. Kami juga tidak punya tempat tidur mewah dan seperangkat kamar mewah lainnya seperti teman temanku yang lain. Aku sengaja tidak ingin meminta lebih pada suami ku, aku ingin kami berjuang bersama sama. Sebenarnya keluarga ku pun tak setuju saat dia datang melamarku hanya dengan uang seadanya, tapi yang membuat ayah ku luluh adalah tentang perjalanan panjang hidupnya hingga ia bisa hadir ditengah tengah kehidupan ku. Walaupun tak mengenalnya lama dan bukan dari proses ta'aruf, aku sudah cukup tau bagaimana tentangnya tanpa aku harus berpacaran karena dia teman ku juga walau kami memang tidak akrab. Komitmen itu hadir saat salah satu teman kami menyampaikan niat baik suamiku ini untuk melamarku, aku yg banyak tau tentang nya dan kehidupan nya memutuskan untuk istikharah dan meyakinkan diri untuk menerimanya.
Dan sampailah kami kepada pernikahan yang apa adanya, sederhana tanpa kemewahan dan hidup dengan sederhana. Namun aku merasa bahagia. Awalnya aku seperti menerima tantangan hidup, yaaa aku memang suka tantangan, selama ini aku suka mengerjakan sesuatu yang di luar dari lumrah, misalnya saja aku membuat dua skripsi saat aku menyelesaikan masa kuliah ku. Yah.... Semua ku lakukan karena aku suka tantangan. Bukan berarti aku tak menemukan kesulitan tapi aku yakin setiap apapun yang di mulai dengan keyakinan kepada Allah, dan selalu menyertakan Allah di dalamnya maka Allah akan bantu.
Demikian pula pernikahan ini, aku tak memikirkan bagaimana kehidupan kami kedepannya saat harus menikah dengan lelaki yang biasa yang apa adanya, yang bekerja di sebuah sekolah dengan gaji hanya 800rb perbulan nya, di tambah dengan mengajar les privat dengan penghasilan 250rb. Selain itu dia juga punya keahlian di bidang IT tak jarang teman temannya atau kenalan nya  menggunakan jasanya dan itu tak selalu ada. Kalau diperkirakan rata rata pendapatan nya hanya 1 juta 500rb saja. Aku selalu bersikeras memintanya untuk mengizinkan aku bekerja, banyak sekali tawaran yang masuk pada ku atas rekomendasi beberapa dosen dan teman teman ku. Tapi suami ku ini tak mengizinkannya ia tak mau aku menanggung beban hidup, kalau pun aku bekerja ia tak akan menyentuh penghasilan ku, dan tak akan memakainya, walaupun itu ku anggap sebagai hadiah, namun ia berkata bahwa ia masih sanggup dan akan memperjuangkan kebahagiaan kami.
Ah.... Aku bisa apa.
Selain patuh pada suami ku.
Bukan kah aku sendiri yang memulainya? Menerima tantangan pernikahan ini.
Namun... Tak sepenuhnya aku menganggap ini sebagai tantangan, tapi inilah ketentuanNya yang  memang harus aku jalankan.

Tak terasa aku sampai di rumah ku,
Rumah yang kecil tapi sudah bangunan permanen, hanya ada satu kamar tidur, ruang tamu lalu ada sedikit ruang kecil yang kami jadikan mushola sederhana dan dapur juga satu kamar mandi. Tapi rumah ini terasa indah bagi ku, karena suami ku rajin sekali menanam tanaman di pekarangan. Baru pindah saja, dia sudah bisa mendesain halaman belakang yg seadanya menjadi lebih apik dan cantik, aku sangat suka. Demikian pekarangan depan. Sampai sampai pemilik kontrakan kami saat berkunjung berjanji akan memberikan cat rumah baru sesuai pilihan ku agar kami bisa lebih nyaman karena dia suka dengan apa yg sudah di buat suamiku di pekarangan kontrakan nya ini, jadi lebih rapi dan indah jauh sekali dari sebelumnya katanya. Saat cat nya sudah datang sesuai warna  permintaanku, aku dan suami bekerja sama saat malam dan sehabis subuh, tak butuh waktu lama dalam tiga hari kami selesai mengganti cat rumah ini dari warna putih yang usang menjadi warna biru sendu yang terang dan lebih indah. Aku memang suka biru. Lalu aku mulai mendekor isi rumah kami yang sangat apa adanya. Gorden milik mama yg ku bawa juga warna biru, demikian juga hiasan hiasan dan bunga bunga yg dibelikan mama untuk ku semua warna biru. 
Ah... Maa sha Allah.

"Dik.. Mas pulang agak sorean dikit ya. Ada kerjaan di rumah teman, benerin laptop nya. Adik makan siang nya duluan aja ya. Oh ya, mau di bawakan makanan apa nanti? Mas ada tambahan sedikit rezeki nanti kalau sudah selesai benerin laptop temen mas" 

Aku membuka hp ku dan ternyata ada pesan masuk dari suamiku, ah... Dia sungguh romantis walaupun hanya pesan sederhana saja tapi cukup membuatku lega dan bahagia. 
Di luar sana mungkin banyak suami yg tak pernah mengabari istrinya tentang aktivitas nya di luar, dan pulang jam berapa. Sampai sampai sang istri tak mengenali kebiasaan suaminya. Semoga suami ku akan terus berbuat seperti ini pada ku, yaaa itu doa ku. 
"iya mas, semoga pekerjaan nya lancar dan jangan lupa makan siang ya, pilih makanan yang sehat, jangan sampai gak makan. Nanti adek juga gak mau makan kalau mas gak makan hehe... Gak perlu bawa apa apa mas, mas pulang dengan keadaan sehat walafiat saja itu sudah jadi oleh oleh spesial buat adek😊" 
 Ku tutup pesan ku dengan emoticon senyuman, seolah mewakili perasaan hati ku. 
Hari hari ku, memang lebih banyak sendiri, pagi sampai tengah hari suami ku mengajar, jelang sore sehabis ashar dia berangkat lagi les privat, jelang maghrib baru balik ke rumah.  Tapi itu tak membuatku kesepian, aku masih bisa komunikasi dengan orang tua ku dan saudara saudara ku yang lain juga teman teman ku. Tak jarang mereka datang dan membawakan oleh oleh buat ku. Karena mungkin mereka tau kondisi ku. Selain itu aku juga gencar cari cari tau usaha online apa yang bisa ku kerjakan dari rumah dan tidak terlalu menyita waktu ku. 

Aku pun melanjutkan beberes lalu makan, makanan yang ku masak walaupun sendiri dan menu yang seadanya tapi Alhamdulillah aku mensyukuri, hari ini aku masih bisa makan. Kami harus menghemat karena bulan ini kami mulai mencicil sepeda motor baru suami ku. Karena motor yang lama sudah sangat rentan bahkan tak bisa di perbaiki, untung nya masih ada yg mau beli dengan harga yang pantas dan uangnya bisa untuk dp motor baru dan bisa beli sepeda bekas untuk ku. Karena itu aku harus pandai pandai berhemat.

Jelang sore suamiku pulang...

"assalamu'alaikum..." 

Aku bergegas lari ke luar dan masih pakai mukena karena baru saja menyelesaikan sholat ashar dan bacaan almatsurat ku. 

"wa'alaikumsalam..." 

Ku buka pintu dan ku dapati ia mulai memakirkan sepeda motor nya di teras rumah dan membuka helm nya, wajah nya tampak sendu dan tak bergairah, tapi masih bisa senyum saat memandangku yabg sudah menunggu di depan pintu. 

"masuk yuk..." Katanya
Firasat ku berkata pasti ada sesuatu yang hendak diceritakannya. Sesuatu yang penting. 

"Dik... Maafin mas ya" 
"maaf kenapa sayang? " sambil mengelus pipinya dengan wajahnya yang nampak letih. 
"Mas gak jadi bawakan adik makanan" 
Aku lalu melempar senyum dan tawa kecil ku padanya sambil memijat ringan tangannya. 
 "Adek kan gak minta di bawakan apa apa, kirain Mas minta maaf kenapa" 
Wajahnya berubah sedikit agak tenang.
"Adik sudah makan? Pakai lauk apa?" 
"tadi adek goreng tahu dan tumis sayur kangkung. Enak deh... Mas mau makan?" 
Wajahnya berubah lesu lagi dan tampak matanya berkaca kaca, 
"maafin mas ya sayang,, Adek harus makan tahu lagi hari ini gara gara berhemat untuk cicilan motor kita" 
Dan ku lihat air mata nya mulai mengalir dari sudut matanya. Aku tak berani menyambung kata katanya. 
"Dik... Tadi waktu di rumah teman Mas, Mas lihat teman Mas, begitu ringan memberikan  sejumlah uang pada istrinya, hanya untuk bayar tas yang dibeli istrinya ke tetangganya. Mas rasa uang itu sebanyak gaji mas sebulan,  Mas teringat adik. Jangan kan memberi uang sebanyak itu, membelikan baju baru untuk adek pun mas gak pernah, adek selalu gunakan uang tabungan adek untuk keperluan yang tak terduga sampai tabungan adek habis, dan mas janji itu akan menjadi hutang mas kepada adik. "
" SubhanAllah... Kita tak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain mas, pernikahan kita ini bukan untuk berlomba lomba mencari kesenangan, tapi kita jalankan apa yg sudah menjadi komitmen kita dan tujuan kita satu, sakinah hingga ke Surga Nya. Adik tak pernah berkecil hati atas apapun yang mas beri. Bagi adik, kasih sayang mas ke adik, taqwa nya mas itu adalah kebahagiaan buat adik"
Air matanya kini lebih deras dari sebelumnya dan ia mulai menutup wajahnya dengan telapak tangannya. 
" Mas janji akan bahagiakan adek sampai ke akhirat sana" 
Ia memegang erat tanganku, jujur aku pun ingin menangis tapi aku tak mau ia menganggap ku bersedih karena hal ini. 
" iya sayang... Aamiin. In sya Allah"

"Oya... Teman mas tadi memberikan Tips 50rb.  Padahal di awal janji kami adalah 150rb, tapi karena dia lihat mas cepat membereskan laptop nya dan terlihat mas tak begitu susah, ia hanya menyalamkan 50rb saja pas pulang tadi, Mas hanya bisa tersenyum . Biarlah Allah yang akan mengganti sisanya, Adik gak marah kan? " lanjut nya. 

" jangan sedih ya sayang, ini hanya dunia, teman Mas juga makhluk Allah, kita tak berharap rezeki pada nya, cukup kita pinta ke Allah saja"

Bergetar hati ku, rasa ingin marah pada teman suami ku itu, bukan tak jauh suami ku harus ke rumahnya bahkan sampai rela makan di warung atau mungkin ia tak makan. Tapi temannya harus mengingkari janjinya. Ah Allah..... 


Maghrib pun tiba lalu kami sholat berjama'ah, lagi lagi tangis kami pun pecah berdua saat doa yang ia lantunkan penuh harapan dan begitu syahdu.

"Robbana.... Kami bukan tak mensyukuri apa yang telah kau beri, kami hanya bermuhasabah diri sambil bermunajat pada Mu, jangan Engkau menjauh... "

Selepas maghrib kami pun makan bersama, aku perhatikan ia makan dengan begitu lahap, jangan jangan ia tak makan siang pikir ku. 
"koq masakan adek, enak banget sih?"
" Alhamdulillah sayang, adek bahagia sekali kalau mas suka. Adek akan terus belajar untuk masak yang enak buat Mas"

Kali ini air mata ku yabg tak mampu ku tahan tapi segera ku seka,, aku yakin dia tak makan seharian tadi.

Selesai kami makan, kami pun ngobrol di ruang tamu beralaskan tikar yang apa ada nya..

"Assalamu'alaikum... Bang..."
Terdengar suara orang dari luar memanggil, seperti suara Fatia adik suami ku satu satunya yang tinggal bersama suami dan dua anaknya. Ya... Mereka berdua suamiku dan adiknya adalah  yatim piatu, orang tua suami ku dan adiknya sudah sejak lama meninggal, dan adik nya menempati rumah orang tua nya karena semasa hidup orang tuanya adik nya rela tak bersekolah demi mengurus orang tua mereka yang sakit sakitan. Dan ia menikah dengan lelaki sholih namun pekerjaan nya juga tak tetap. Tapi mereka masih bisa punya penghasilan sampingan dari sawah almarhum mertua ku. Suami ku tak ingin mengusiknya  karena ia merasa berhutang budi pada adik satu satunya itu.
"wa'alaikumsalam..." 
Aku membuka pintu dan mempersilahkan Fatia masuk.

Fatia datang bersama suami nya dan dua anaknya, wajah mereka tampak panik.

" Kak, Bang... Fatia mohon maaf sudah mengganggu kalian, Fatia minta tolong kak, Bang... Tolong kami, Azam demam tinggi dari kemarin kami sudah bolak balik ke klinik dekat rumah tapi Azam tak sembuh juga malah makin parah kak, Bang. Kami di suruh bawa Azam kerumah sakit sekarang, tapi kami tak punya uang sepeserpun lagi. Tolong kami kak bang... Tapi kalau tidak ada, gak apa apa... Kami bawa saja Azam kerumah sakit nanti kami pikirkan lagi bagaimana "
Azam nampak lemah di gendong ayahnya. Sedang kan Sumayya adiknya juga nampak letih di pangkuan ummi nya
 "kalau diizinkan dan tidak mengganggu 
Kami juga mau nitip sumayya kk," lanjutnya. 

"oh iya dek.. tentu,  biar sumayya sama kakak dan abang.,"
Aku menunggu keputusan suami ku.
"dik sebentar ya" katanya memanggilku
Lalu ia mengajak ku ke kamar. 

" kita punya uang simpanan?"
Katanya pelan agar tak terdengar fatia dan suaminya. Kasihan mereka
" ada Mas, 400rb untuk cicilan motor kita bulan ini, dan simpanan adik ada 75rb lagi"
"mas boleh pinjam uang untuk motornya dek? Untuk menolong azam?"
"tentu sayang, pakai aja dulu, in sha Allah, kita bisa usahakan lagi nanti. Kan masih 2 minggu lagi bayar nya"
"alhamdulillah makasi sayang, uang adek jangan di pakai ya. Biar adek simpan aja"
Aku pun menyerahkan uang simpanan kami kepada suami ku dan keluar menemui Fatia.

" Fatia, ini Abang punya uang simpanan untuk bayar cicilan., tapi cuma 400rb dan ini ada uang 50rb tadi Abang baru benerin laptop temen, pakai aja dulu, mudah mudahan membantu,  setidaknya biar Azam bisa dapat perawatan awal."

" Alhamdulillah... Makasih banyak bang, nanti saya ganti ya bang, Setelah dapat gaji dari mandor" kata suami Fatia, yang memang bekerja serabutan ikut borongan bangunan. 

" Mudah mudahan Allah meringankan urusan kita dan Azzam lekas sembuh, biar Sumayya sama abang dan kakak, kalian cepat bawa azzam ke rumah sakit, nanti kabarin kami lagi ya." lanjut suami ku berusaha menenangkan mereka. 
"iya Bang, Kak, terimakasih... Assalamualaikum"

"wa'alaikumsalam.."

Kami mengantarkan mereka ke depan pintu, dan sumayya kami bawa ke kamar karena sudah tidur.

 Suami ku nampak lesu lagi
" sayang..."
Dia pun memandangi ku
"gak apa apa kan?"
" gak sayang.. Yuk kita temani sumayya takutnya dia terbangun"


Malam ini begitu sunyi, biasanya aku dan suamiku senang bercanda atau saling setor hafalan qur'an di kamar, karena sumayya sudah tidur, maka kami pun ikut tidur juga.

Di sepertiga malam aku terbangun, dan aku lihat ternyata suami ku sudah bangun dan sedang sholat, aku tak ingin mengganggu khusyu' nya, aku memilih sholat setelah dia selesai. Agar tak mengganggu nya.. Aku elus elus kepala sumayya, sumayya tampak pulas sekali mungkin ia letih seharian ini bolak balik ke klinik karena azam yang sakit, tadi malam juga aku mendapat pesan dri fatia, Azzam sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit, dan mereka menginap di rumah sakit.
Alhamdulillah


Fajar meyingsing..
Selepas sholat subuh kami tilawah bersama, lalu aku siapkan sarapan dan beberes rumah lalu menyiapkan suami yang hendak bersiap berangkat kerja. 

"dek ini hari apa?" katanya. 
" ini tanggal 5 mas, hari kamis" 
" oh... Hari ini pengumuman cpns kemarin ya dik, mas lulus gak ya?? Hehe... Tapi mas gak pinter kayak adik. Mana mungkin mas lulus ya.." 
"hushhh... Gak boleh bilang gitu mas, masa' kita mendahului ketentuan Allah" 
"eh iya astagfirullah...". 
"Mas sudah lulus tahap 1 saja itu sudah membuktikan mas pinter. 
apapun hasilnya... Itu yang terbaik" lanjut ku... 

Saat suami ku berangkat mengajar, aku kini di temani sumayya, aku isenk buka buka Web pengumuman cpns dan memasukkan nomor id suami ku. 
Aku tak menemukan data apa apa... 
Lalu ku coba sekali lagi.. Kali ini berdasarkan nomor peserta dan qodarulloh.... 
Rasa tak percaya... 
Ya Allah... 
Suami ku lulus di peringkat pertama.. 
Alhamdulillah, Alhamdulillah tak henti aku mengucapkan syukur dan sujud. 
Sumayya sampai heran melihat aku begitu bahagia dan menangis
" tante kenapa?" 
"  gak apa apa sayang, sebentar lagi Om pulang, kita siapin makan siang yuk" 
Ah.. Tak sabar aku memberi kabar ini. Sambil beristighfar ku siapkan makanan. 

Tak lama suami ku pulang, sumayya berlari membukakan pintu, 

"Om.. Tante tadi nangis dan tiba tiba sujud" ku dengar sumayya melapor ke om nya. 
" adek kenapa??" setengah panik dan memelukku.
" sayang... Adek tadi liat pengumuman dan nama mas lulus di peringkat pertama" 
"lulus??" katanya heran
"iya sayang,  lulus pns yang..." sambil aku menunjukkan pengumuman nya dan ia setengah tak percaya. 
" ya Allah..... Alhamdulillah dik... Berkat doa mu dan cintamu... Allah bantu kita" 
"ini juga karena mas sayang..." 
"adek tau gak?" sambil ia menyodorkan amplop coklat pada ku dan menarik ku duduk. 
"adek ingatkan seminggu yang lalu  itu mas pernah bagusin laptop lama  kepala yayasan di sekolah mas? dan ternyata laptop itu milik ayah nya, ayahnya senang sekali karena didalam laptop itu banyak sekali data data penting dan kenangan, karena sangkin senangnya mas tadi di panggil ke rumahnya pas jam sekolah, dan mas di kasi amplop ini sebagai bentuk terimakasih, awalnya mas menolak. Tapi Bapak itu kekeuh memberikannya." jelasnya. 
"Alhamdulillah...adek buka ya" ku hitung uang yang ada di dalam amplop itu, tampak tumpukan lembaran uang merah. 
"maa sha Allah... Lima juta mas" 
"Alhamdulillah ya Allah..." 

" uang ini buat adek saja, beli baju baru ya dek... Atau beli apa saja yang adek mau" 

" jangan sayang, adek masih punya baju banyak, di rumah orang tua adek juga baju adek masih banyak,. Ini buat beli baju mas dan perlengkapan mas nanti. Untuk cicilan... Dan..."
" untuk beli eskrim tante..." kata sumayya yang dari tadi memandangi kami.... 
Kami pun tertawa..." iya sayang... Nanti kita beli eskrim dan liat mas azzam ya... " kata ku.. 
" hore..... "


Maa sha Allah... Tabarakalloh... 
Janji Allah selalu pasti. Alhamdulillah 


Lentera Sakinah bagian 1
Di tulis oleh Umma Nuha
8-9-2020, Aek Nabara. 

Tulisan ini dilarang di copy paste tanpa mencantumkan nama pengarangnya, karena dilindungi oleh hukum. Silahkan share jika bermanfaat dan cantumkan nama pengarang. 



mulai dari mana???

Lama banget vakum dari dunia tulis menulis ini,  terakhir tu tahun 2017 dan Alhamdulillah juara 3 dan tulisannya tentang rumah tangga... Eaaaak... 😁
Setelahnya masih nulis juga, tapi isenk isenk aja di notes hp. Pas lagi iseng dan ada ide buat cerita, langsung tulis, ada yg kelar ceritanya.. Ada yang kagak... Hihi.. Tapi in sha Allah nanti aku post. 
Ada banyak hal yg terjadi dan ku jalani... Ada banyak cerita di benakku yang ingin ku tumpah kan, tapi mungkin ke depannya bakalan banyak ngereview, ngasi Tips, bikin cerpen sama berbagi pengalaman aja. 
Terakhir post tu status dari single ke married ya.. Dan Alhamdulillah sekarang status udah bertambah lagi jadi be a parents.
Post terakhir aku mau cerita tentang perjalanan pernikahan, tapi kayaknya gak jadi 🀣 jadi nanti di rangkum aja sekalian sama cerita yg lain. 
Pokoknya... 
Sambil nunggu bayi yg lagi bobok... Aku mau aktif nulis lagi... Walaupun gak ada yg baca, walaupun gak da yg suka, whatever, karena aku gak cari viewers, reader, aku cuma pengen ngulang kembali baca tulisan ku ini kelak... Dan di baca oleh anak anak ku kelak ♥️
Oke... Kita lanjut di post berikutnya yaaaa... Ini mau beberes bersih bersih dan ganti cover blog dulu hihi... 😁😁😁