####
"Mas... Stok keperluan udah habis, susu dan diapers Arkan juga udah tinggal dikit lagi. Uang yang mas kasi kemarin sisa 50rb aja di dompet adek"
Aku... Mendekati suami ku yang sedang sumringah menikmati video lucu di hape nya, sulit untuk menemukan waktu untuk berbicara seperti ini dengan nya, karena dia orang yang kurang bisa menahan diri untuk ku dan keluarga nya jika ada suatu masalah, ia cenderung mudah marah dan emosi. Namun tidak demikian dengan lingkungan luar. Sejak aku memutuskan berhenti kerja karena mau fokus mengurus anak, ia jadi sering uring uringan, padahal ia sendiri yang memaksaku untuk berhenti kerja. Semenjak berhenti kerja, aku jadi tak punya uang simpanan untuk keperluan ku, atau pun untuk mengirim ke orang tua ku, semua terbatas. Aku kini bergantung dengan apa yg diberi suamiku. Kalau di belikan ya syukur, tapi lebih sering jawabannya "nanti nanti aja".
Pernyataan ku tadi tak di gubris nya, lalu aku coba membuat dia mengalihkan pandangan pada ku, sambil mengelus punggung tangannya.
"ya sudah nanti kita beli" katanya agak cuek.
Hah... Hanya itu saja yang ia sampaikan.. Baiklah... Itu saja cukup buatku tenang, daripada ia harus membarengi dengan amarahnya.
Besoknya, stok sudah benar benar habis, tapi ia tak juga kunjung memberi ku uang atau mengajakku belanja bulanan.
Ingin ku ulang pertanyaan ku, tapi aku takut kena marah, apalagi kondisi ku yg seperti ini. Stress hanya akan membuatku tambah tidak stabil.
"Mas jadi belanja hari ini, adek bersiap ya? Arkan udah adek mandikan" mungkin dengan seperti ini dia akan sedikit sadar.
"mau kemana?" tanya nya dingin
"stok kita sudah habis sayang, popok dan susu juga sudah habis"
" tapi masih ada yang mau dimakan kan?"
"ya.. Untuk hari ini sampai besok ada"
"ya udah itu aja dulu, mas capek nih" aku menghela nafas mendengar ucapannya itu.
"mas...udah sholat ashar?"
"hmmm" jawabnya, hanya itu, ya.. , dan itu membuat ku ingin menjerit, tapi apa aku lebay? Apa masih ada yg lebih buruk nasibnya dari aku? Ah tentu ada... Astagfirullah...
Aku bergegas melihat anak ku, yg ku tinggal di kamar bermain tadi, lalu ku peluk sambil menangis. Anakku yang masih 8 bulan itu, memberi isyarat yang membuat ku gemas dan tersenyum. Ah... Allah...
Bukan tak bisa aku berpenghasilan seperti dulu, tapi aku lakukan ini semua demi anakku, aku tak ingin ia di asuh orang lain.
Hari ini aku tak ingin lagi menanyakan kepada suamiku, aku tau dia baru saja dapat bonus dari kantor, dan masih banyak uang masuk lainnya. Tapi ia kini tak seperti dulu, tidak lagi terbuka, bahkan uang yang diberikan kepadaku semua pas pasan.
Aku manfaatkan saja uang 50rb yang ku punya untuk beli keperluan anak ku walaupun hanya dalam ukuran kecil, susu sachet, diapers satuan, sayur dan ayam beberapa ons saja untuk memenuhi gizi nya, Alhamdulillah cukup. Sisanya aku belikan telur satu butir yang ku dadar melebar dan di bagi dua untuk makan siang ku dan makan malam ku. Suami ku pasti sudah makan di kantor.
"tuh.. udah ada susu nya?"
Aku tak menggubris perkataannya, aku siapkan teh untuknya dan baju gantinya.
"dapat uang dari mana?" lanjutnya
"uang sisa 50rb kemarin"
"koq bisa cukup?"
Tak tahan lagi rasanya, lalu aku mulai berkata panjang kali lebar kepadanya.
"maaf mas, adek sudah beberapa kali mengulang pertanyaan yang sama tapi mas gak menanggapi, adek sudah bilang kemarin kan semua udah habis, dan uang adek hanya sisa 50rb, sisa 50rb yang adek manfaatkan, sampai adek makan siang dan malam pakai telur yang adek bagi dua"
Tak terasa air mataku mengalir..
"adek gak minta uang mas, adek cuma minta mas perduli sama keluarga, peka dengan kondisi kami" ku mencoba menjelaskan, berharap dia luluh.
"udah di kasi koq minta lebih, ini yang mas gak suka, apa apa nyalahkan mas. Udahlah... Mas mau istirahat"
Hanya itu.... Ya lagi lagi hanya itu....
Tak tahan rasanya, tapi apa harus alasan ini akan menggoyahkan rumah tangga kami? Di luar sana masih banyak yg lebih parah.
Malam ini aku berfikir keras, bagaimana agar bisa keluar dari kondisi ini, akhirnya aku memberanikan meminta pendapat kepada murobbiah ku, dia punya perusahaan kecil, bolak balik menawarkan pekerjaan untuk ku, karena aku mumpuni dalam hal management, akhirnya ia memberi saran untuk tetap bisa bekerja dengan membawa si kecil ku ikut bersama ku, aku hanya perlu standby di ruang kantornya yg cukup privasi karena satu ruangan untuk satu orang. Ku lanjutkan istikharah ku di sepertiga malam dalam sujud yang panjang, dalam deru airmata yang dalam. Suami ku... Tak lagi seperti dulu, aku tak tau apa yang membuat ia berubah., apakah ada wanita ketiga? Ntahlah, tapi setau ku tidak, dia sangat perhitungan sekali, dan dia juga tidak pernah mengunci hp nya, ia juga membebaskan ku memakai hp nya. Apa untuk keluarganya? Kalau ya,, tentu itu tidak masalah untuk ku, karena kadang aku yg mensupport nya untuk selalu berbagi kepada orang tuanya. Karena itu kewajibannya.
Hingga subuh... Aku masih tertidur pulas di sajadah, lalu aku bangun dengan mata sembab, ku bangunkan suami ku...
"mas... Sholat, udah subuh"
"iya..."
Yah.... Akhir akhir ini ia juga sering meninggalkan sholat terutama isya dan subuh. Aku hanya bertugas mengingatkan selebihnya ku serahkan kepada Allah.
Pagi lagi,aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan.
Ia pun heran, aku sudah rapi pagi pagi sekali.
" mau kemana? Koq udah rapi,"
"o iya, sekalian mau minta izin, hari ini adek mau bawa Arkan melamar kerja"
"koq baru bilang sekarang? Udah gak anggap mas suami lagi ya?"
"karena masih adek anggap, makanya adek minta izin"
"gak... Gak boleh, Arkan jangan di bawa kerja"
" lalu kami mau makan apa?"
" wah.. Bicaranya udah kayak gak di kasi nafkah aja ya, baru sekali telat ngasi uang, udah berlagak seperti ini. Kamu mau nya sebenarnya apa? Mau di kasi uang berlebih biar bisa beli ini itu? Liat dulu, kamu tu boros banget, semua semua di beli, royal banget, sampek kita gak punya tabungan. Sekarang saat mas berusaha untuk menabung kamu seperti ini"
" bukannya dulu adek punya tabungan mas, adek nabung dari uang yang mas kasi, dan uang adek sendiri, kita bisa bayar hutang lama kita,bantu keluarga saat kesulitan, kita bisa melengkapi keperluan saat lahiran dan anak kita, kita bisa bayar dp rumah, bukannya itu dari uang yg adek simpan. Sekarang ya sudah habis, kan di pakai".
"iya...setelah itu..."
"setelah itu memang adek beli keperluan berlebih untuk Arkan, untuk mpAsi Arkan adek beli yg terbaik, untuk susu Arkan adek beli yg bagus, untuk beli keperluan rumah juga, tapi sedikit pun adek gak ada pakai untuk kepentingan adek sendiri, tapi untuk keluarga kita, kita pakai sama sama"
"ya itu... Boros namanya."
"oke.... Adek minta maaf, kalau memang adek boros ubtuk anak kita, dari kemarin itu adek juga udah minta maafkan, adek juga gak marah saat mas batasi keuangan untuk keluarga ini. Itu hak mas, tapi kalau adek sampai susah makan, anak kita sampai gak bisa beli keperluan nya, adek kan harus bertindak mas"
"jadi sekarang kamu mau apa?"
"adek mau kerja mas, sambil jaga Arkan, adek sudah diskusi dan diizinkan dengan kak Naya. Alasan adek, adek hanya ingin berkarir saja"
" oke silahkan kamu kerja, dan bawa Arkan, tapi mas gak akan kasi uang untuk keperluan kalian"
Ia pun berlalu meninggalkan ku...
Sakit sekali rasanya,, dunia serasa menghimpit. Aku ambil Arkan dari kereta dorongnya lalu aku lajukan motor yg diberikan ayah ku dulu, menuju kantor kak Naya, aku bawa perlengkapan Arkan semuanya. Sambil memohon ampun kepada Allah di sepanjang jalan. Aku takut Allah marah, tapi aku tak tau harus berbuat apa, aku sudah bersabar rasanya, walaupun Sabar ku hanya sekecil itu.
Sampai di kantor kak Naya, aku disambut nya hangat, seolah dia tau kegelisahan ku. Aku siapkan tempat tidur dan ruang main Arkan dari perlengkapan yang ku bawa, di ruangan kantor kak Naya yang kini ku tempati bekerja ukurannya memang tak besar hanya 2x3 meter tapi cukup membuatku dan Arkan betah. Kemudian kebutuhan susu dan makannya juga sudah ku siapkan. Hah... Ya Allah.. Tentu Engkau yg beri jalan kemudahan ini. Aku bisa bekerja sambil menjaga Arkan, Tugas ku membuat laporan dan rencana kegiatan perusahaan ini. Hari pertama kak Naya sangat puas dengan kerja ku.
" seperti sudah lama kerja disini dek, langsung paham sama tugas adek" sapa ya,
" iya kk, terima kasih, tapi maafkan saya karena harus stay di ruangan saja dan sambil menjaga Arkan ya kak" jawabku
" gak masalah dek..."
Jelang sore kami pulang.
Tapi... Sesampainya di rumah
aku dapati mobil suami ku sudah di depan. Jantung ku berdebar, entah apa sudah di benak ku,
Apakah dia selingkuh di dalam?
Atau apa??? Ini masih jam setengah 4 kenapa dia sudah pulang? Biasanya paling cepat dia pulang jam 5 lebih sering pulang setelah maghrib.
"Assalamu'alaikum...."
Tak ada yang menjawab...
Jantungku berdebar semakin kencang, sambil menggendong Arkan yang masih tertidur, aku rasanya tak ingin masuk ke rumah, aku berteriak agak kuat, aku tetap berada di depan pintu, dan masih memegang kunci motor, sekiranya ada hal yang tak ku inginkan terjadi, aku bisa teriak dan langsung lari. Astaghfirulloh...
"Assalamu'alaikum.....Mas.... Istri mu tercinta pulang" entah apa yg kupikirkan sampai aku berkata agak berlebihan seperti itu.
"wa'alaikumsalam dek..." suamiku keluar kamar dengan baju koko dan pecinya sepertinya baru selesai sholat Ashar.
"adek koq gak masuk" katanya
" gak apa apa disini saja." jawabku ketus
"dek...." Katanya memelukku dan Arkan
"maafin mas...."
"mas selingkuh????" Spontan aku berkata seperti itu sambil melepas kuat pelukan nya hingga Arkan terbangun, dan aku sudah mau balik badan ingin pergi rasanya.
" dek... Astagfirullah... Bukan dek... Demi Allah mas gak selingkuh, mas sayang adek, kita udah punya Arkan, tolong jangan berfikir seperti itu"
Astaghfirullah... Astagfirullah... Lalu ia melanjutkan ucapannya,
"mas minta maaf. Karena mas sudah su'udzon sama adek, akhirnya mas kena tegur Allah," aku tak mau menjawab apapun aku biarkan dia menjelaskan semuanya tanpa ku sela.
"Dek.. Mas tadi dimarahin manager mas, karena mas ada kesalahan buat laporan yg berakibat agen luar jadi memutuskan kontrak kerja nya dengan kami. Padahal rasanya mas sudah buat sebaik mungkin, bahkan sudah mas recheck berkali-kali, bukan hanya itu, mas juga terancam pindah divisi dna posisi jabatan yg lebih rendah. Dan mas disuruh pulang lebih awal untuk berfikir jernih sebelum besok menghadap ke dirut untuk pertanggung jawabannya. Terus, Saat di jalan tadi, mas lihat ada seorang ibu paruh baya dan anak kecil terjatuh dari sepeda motor dan tangan kaki nya luka luka, mas teringat kalian dek... Mas samperin dan mas bantu mereka, tapi orang orang langsung datang dan bilang kalau mas yg nabrak, anehnya ibu dan anaknya itu tidak bicara apaa apa,. Akhirnya mas disuruh bawa mereka ke klinik, setelah diklinik mas selesaikan semua administrasi nya, tapi tiba tiba suaminya datang, dan minta mas tanggung jawab, mas udah membela diri tapi gak ada yang percaya. Suaminya minta ganti rugi sebanyak 8juta, kalau gak, mas mau di bawa ke polisi.
Dan akhirnya uang yg selama beberapa bulan terakhir ini mas simpan dan mas sembunyikan dari adek itu, harus di Gunakan untk hal seperti ini dek.... Ya Allah...
Mas bodoh, kalau saja uang itu mas kasi ke adek untuk keperluan kita dan anak kita, juga untuk sedeqah, mungkin semua ini gak akan terjadi. Mas taubat dek... Mas sudah berlaku tidak adil akhir akhir ini, hanya karena su'udzon terhadap adek, mas takut adek kirim uang ke orang tua adek pakai uang mas. Maafin mas dek... Mas ikhlas di apain aja dek, asal adek maafin mas, tapi mohon jangan tinggalkan mas gara gara ini".
Lemas aku mendengar semua pernyataan suami ku, entah mau marah entah kesal entah kasihan.
Aku semakin erat memeluk Arkan.
Aku terdiam cukup lama, dan dia tetap menangis memohon dipangkuan ku..
Bismillah...
"sudahlah mas.... Ini pelajaran buat kita. Tanpa harus adek jelaskan Allah sudah menjelaskan ke mas terlebih dahulu. Niatkan uang itu untuk sedekah, dan berubah lah mas, berubah menjadi ayah yg baik buat Arkan. Masalah kantor, mas minta pertolongan ke Allah, jangan tinggalkan Allah lagi. Allah tak perlu mas, mas yang perlu Allah. Kita sama sama perbaiki.
Jangan seperti ini lagi"
" iya dek,.. Adek gak usah kerja lagi, mas akan kembalikan semua seperti semula, mas janji sayang. Gak ada istri terbaik di dunia ini selain adek. Mas janji akan lebih memperhatikan keluarga ini"
" Adek minta izin, adek jalani dulu ya mas, karena adek baru dikasi tugas untuk minggu ini oleh kak Naya, gak enak kalau harus mundur tiba tiba, Kak Maya sudah bantu adek, lagian adek juga berusaha gak akan lalai untuk tugas adek di rumah"
" ya sudah sayang, mas akan antar jemput kalian, adek gak perlu bawa motor lagi,. Oya.. Mas masih ada uang di atm, ada 3 juta lagi, semua adek pegang ya, atm gaji mas juga adek yg pegang, adek yang atur semuaaaa nya, mas percaya sama adek. Hari ini kita belanja ya sayang, kita makan di luar, bawa Arkan main, dan beli semua yg adek mau".
" terimakasih mas,,, kita beli keperluan rumah saja"
Kadang.. Kita tak bisa mendengar lewat ucapan, padahal semua untuk kebaikan kita. Lalu setelah Allah yang menyapa lewat teguranNya, barulah kita tersadar akan kesalahan kita. Hidup ini memang tak luput dari ujian karena memang dunia adalah tempat kita di uji. Tinggal bagaimana kita menghadapi ujian ini, dengan keimanan atau dengan emosi diri. Hasil dari ujian ini akan bergantung dari bagaimana kita menghadapinya.
*****
Tulisan ini ditulis oleh Umma Nuha (IntanZhr)
Jum'at, 11 September 2020
Dilarang mengcopy paste tulisan ini karena dilindungi oleh hukum. Silahkan share jika bermanfaat dengan mencantumkan sumber aslinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar