Disebuah desa, tinggallah seorang putri yg cantik rupawan. Hari-harinya di hiasi dengan senyuman dan kasih sayang. Wajahnya yg lembut, ayu dan rupawan membuat banyak orang yg terpesona akan keindahan paras wajahnya. sang putri selalu menghabiskan waktu senggangnya untuk duduk dan bersantai mesra disebuah taman yg tumbuh subur pohon mangga yg lebat serta rindang daunnya.
Setiap saat ia bercerita tentang senyum, suka, duka dan kadang menangis bersama sang pohon. Pohon itu selalu setia mendengarkan sang putri. Setiap ucapan yg terukir di bibir sang putri, sang pohon selalu menjadi pendengar yg baik dengan memberikan kesejukan di jiwa sang putri. Terkadang sang pohon mengibaskan angin segar dengan dahannya yg lebat. Berusaha Memberikan ketenangan disaat airmata dan keresahan tergores di jiwa sang putri. memberikan senyuman di saat rintihan kegelisahan membelai. Memberikan semangat di saat detak jantung lambat berdetak. Sang pohon begitu setia kepada sang putri. hari-hari mereka lalui dengan penuh keakraban, penuh kasih sayang, penuh penghormatan dan kelembutan.
Suatu ketika, sang putri jatuh hati kepada seorang pemuda tampan di desa tersebut. parasnya yg cantik membuat banyak pemuda yg ingin singgah di hatinya, merasa iri dengan pemuda pilihannya. Seperti biasa, sang pohon menjadi tempat curahan kesenangan, kesedihan serta keceriaan dalam hidupnya. Bahkan isi hatinya kepada pemuda yg berusaha mendekatinya. Seperti biasa, sang pohon selalu setia mendengar, tertawa, bersedih bahkan menangis bersama sang putri dan pujaan hati.
Waktu berjalan mengiringi keabraban dalam canda dan tawa mereka, dan pohon tersebut kini semakin tumbuh segar dan lebat, bahkan putik-putik bunga kini semakin tumbuh merekah, dan berbuah manis. Sang putri dan pemuda pujaan hatinya kini semakin akrab bersama sebatang pohon mangga yang selalu setia menjadi saksi kebahagian, kesedihan dan berupaya memberikan ketenangan, keteduhan dan keceriaan.
Hingga suatu ketika, cuaca buruk menerpa, hama merajalela dan prahara menerka di kehidupan mereka. Sang pohon dengan sekuat tenaga berjuang dan bertahan dalam hebatnya ujian yg melanda. Mempertahankan kokohnya akar agar bisa bertahan hingga beribu tahun. Mempertahankan rindangnya dedaunan hijau agar bisa memberikan kesegaran di setiap mata yg memandang, berjuang meraih ranting-ranting yg rindang agar bisa membiaskan angin segar yg penuh kerinduan.
Perjuangan itu, akhirnya berhasil ia lewati. Seperti biasa, sang putri dan pemuda pujaan hati masih dapat merasakan segarnya dedauan, berpayung dari terpaan zaman, membiaskan angin segar yg penuh kerinduan. Hari-hari mereka lewati seperti biasanya, bermesra, bercanda, suka, duka, asa, coba dan goda bersama si pohon mangga.
Hingga suatu ketika, di saat kesenangan terjamah, keceriaan bersahaja, kemesraan bergayut rindu antara sang putri, dan pemuda di bawah rindangnya dedaunan si pohon mangga
tiba-tiba sang mangga menjatuhkan buahnya. Dengan penuh kebahagian dan harapan bergayut di bisik mereka. Sang putri menyayat sedikit demi sedikit kulit yg menempel di tubuh sang buah. Dengan cermatnya sang putri memotong daging buah yg merah dan merekah.
Namun, kesenangan yg di rasa, keceriaan yg bersahaja, kemesraan yg bergayut rindu tiba-tiba pecah seketika. Daging buah yg di bina, masam rasanya. Kecut di lidah, sebak di hati dan sembilu di jiwa. Seketika sang putri marah kepada sang pohon, bermacam rasa di dalam dada keluar tak terkira. Cercaan demi cercaan keluar menerpa. Menggetarkan setiap ranting, menggugurkan setiap daun, mengecutkan mahkota buah.
Kini, sang pohon hanya terdiam, memendam kenangan yg silam, menyimpan kebahagian yg hilang, membina asa dan harapan mesti hanya menerawang. Menjamah kesalahan-kesalahan dengan mata yg berkunang.
namun, sang pohon berupaya terus tumbuh dan berkembang, belajar dari perjuangan agar dapat memberikan kesejukan, mengibaskan angin segar, Memberikan ketenangan, mengukir senyuman serta semangat di jiwa setiap insan.
Setiap saat ia bercerita tentang senyum, suka, duka dan kadang menangis bersama sang pohon. Pohon itu selalu setia mendengarkan sang putri. Setiap ucapan yg terukir di bibir sang putri, sang pohon selalu menjadi pendengar yg baik dengan memberikan kesejukan di jiwa sang putri. Terkadang sang pohon mengibaskan angin segar dengan dahannya yg lebat. Berusaha Memberikan ketenangan disaat airmata dan keresahan tergores di jiwa sang putri. memberikan senyuman di saat rintihan kegelisahan membelai. Memberikan semangat di saat detak jantung lambat berdetak. Sang pohon begitu setia kepada sang putri. hari-hari mereka lalui dengan penuh keakraban, penuh kasih sayang, penuh penghormatan dan kelembutan.
Suatu ketika, sang putri jatuh hati kepada seorang pemuda tampan di desa tersebut. parasnya yg cantik membuat banyak pemuda yg ingin singgah di hatinya, merasa iri dengan pemuda pilihannya. Seperti biasa, sang pohon menjadi tempat curahan kesenangan, kesedihan serta keceriaan dalam hidupnya. Bahkan isi hatinya kepada pemuda yg berusaha mendekatinya. Seperti biasa, sang pohon selalu setia mendengar, tertawa, bersedih bahkan menangis bersama sang putri dan pujaan hati.
Waktu berjalan mengiringi keabraban dalam canda dan tawa mereka, dan pohon tersebut kini semakin tumbuh segar dan lebat, bahkan putik-putik bunga kini semakin tumbuh merekah, dan berbuah manis. Sang putri dan pemuda pujaan hatinya kini semakin akrab bersama sebatang pohon mangga yang selalu setia menjadi saksi kebahagian, kesedihan dan berupaya memberikan ketenangan, keteduhan dan keceriaan.
Hingga suatu ketika, cuaca buruk menerpa, hama merajalela dan prahara menerka di kehidupan mereka. Sang pohon dengan sekuat tenaga berjuang dan bertahan dalam hebatnya ujian yg melanda. Mempertahankan kokohnya akar agar bisa bertahan hingga beribu tahun. Mempertahankan rindangnya dedaunan hijau agar bisa memberikan kesegaran di setiap mata yg memandang, berjuang meraih ranting-ranting yg rindang agar bisa membiaskan angin segar yg penuh kerinduan.
Perjuangan itu, akhirnya berhasil ia lewati. Seperti biasa, sang putri dan pemuda pujaan hati masih dapat merasakan segarnya dedauan, berpayung dari terpaan zaman, membiaskan angin segar yg penuh kerinduan. Hari-hari mereka lewati seperti biasanya, bermesra, bercanda, suka, duka, asa, coba dan goda bersama si pohon mangga.
Hingga suatu ketika, di saat kesenangan terjamah, keceriaan bersahaja, kemesraan bergayut rindu antara sang putri, dan pemuda di bawah rindangnya dedaunan si pohon mangga
tiba-tiba sang mangga menjatuhkan buahnya. Dengan penuh kebahagian dan harapan bergayut di bisik mereka. Sang putri menyayat sedikit demi sedikit kulit yg menempel di tubuh sang buah. Dengan cermatnya sang putri memotong daging buah yg merah dan merekah.
Namun, kesenangan yg di rasa, keceriaan yg bersahaja, kemesraan yg bergayut rindu tiba-tiba pecah seketika. Daging buah yg di bina, masam rasanya. Kecut di lidah, sebak di hati dan sembilu di jiwa. Seketika sang putri marah kepada sang pohon, bermacam rasa di dalam dada keluar tak terkira. Cercaan demi cercaan keluar menerpa. Menggetarkan setiap ranting, menggugurkan setiap daun, mengecutkan mahkota buah.
Kini, sang pohon hanya terdiam, memendam kenangan yg silam, menyimpan kebahagian yg hilang, membina asa dan harapan mesti hanya menerawang. Menjamah kesalahan-kesalahan dengan mata yg berkunang.
namun, sang pohon berupaya terus tumbuh dan berkembang, belajar dari perjuangan agar dapat memberikan kesejukan, mengibaskan angin segar, Memberikan ketenangan, mengukir senyuman serta semangat di jiwa setiap insan.
***********************************
sahabatku, dalam hidup kita sering di hadapkan oleh berbagai situasi, baik tawa, bermesra, bercanda, suka, duka, asa, serta coba. Dan tak jarang kita bercerita kepada ibu, ayah atau seorang sahabat agar mereka dapat merasakan apa yg kita rasa. Dan terkadang memberikan nasehat akan kelemahan-kelemahan atau kekhilafan kita. Menyokong kebaikan kita bahkan memberikan senyum terhadap keikhlasan kita.
Namun, seorang ayah, ibu dan sahabat itu bukanlah seorang Nabi atau Malaikat yg selalu memberikan senyuman indah dan merekah kepada kita. Terkadang mereka memiliki cara tersendiri untuk membuat kita bahagia. Hentakan mereka, pilu yg di rasa, pastilah bermakna meskipun penuh suka / duka.
Tak selamanya fikiran kita di jamah oleh alam sadar mereka, tak selamanya ia mengerti apa yg kita rasa. Namun percayalah, mereka akan selalu berdoa dan berupaya membuat kamu bahagia meski dengan cara yg berbeda…
----------------------------
sumber : Majelis Ta'lim Darusshofa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar